Monday, April 27, 2009

The Golden Compass


Aku penggemar berat novel trilogy His Dark Materials karya Philip Pullman. Buku pertamanya berjudul: The Golden Compass yang sudah dibuat versi filmnya. Namun, sayang seribu sayang. Sekali lagi hal ini membuktikan, bahwa novel fantasi sebaiknya tidak dituangkan ke dalam bentuk film. Karena hasilnya jauh dari memuaskan.

The Golden Compass adalah novel yang kaya dengan dengan fantasi. Philip Pullman benar-benar pandai merangkai kata-kata, sehingga aku bisa membayangkan, situasi dan keadaan yang terjadi dalam novelnya itu, hanya dengan membacanya saja. Bagaimana dia menggambarkan kondisi Akademi Jordan, tempat Lyra (tokoh utama) dibesarkan, sebagai tempat tinggal para cendikiawan yang membaktikan hidupnya untuk menggali ilmu pengetahuan. Lalu bagaimana para kaum Gypsi mewarnai perahu mereka yang besar dengan warna-warna cerah. Tapi, hal ini tidak terlihat dalam versi filmnya.

Karakter Lyra (Dakota Blue Richards)dalam novel adalah seorang gadis kecil yang keras kepala dan agak liar. Seorang anak yang senang menjelajahi daerah-daerah yang dilarang oleh orang dewasa. Dia senang berkelahi dengan anak laki-laki. Sering menyelinap ke ruangan-ruangan terlarang di Akademi Jordan, dan berbagai kenakalan lainnya. Sama sekali tidak terlihat dalam film berdurasi 1 jam 85 menit ini.

Hasilnya, yah seperti yang sudah kubilang tadi, cukup mengecewakan. Karena kekayaan novel ini tidak benar-benar bisa tertuang dengan sempurna.

Namun di lain pihak, efek visualisasinya bisa dikatakan LUAR BIASA! Sutradaranya cukup ahli menggambarkan tokoh Iorek Byrnison(beruang es panserborne) yang menjadi kawan Gypsi dalam pengembaraannya mencari ayahnya Lord Asriel (Daniel Craig). Beruang yang berukuran sangat besar. Juga ketika tokoh si ratu penyihir, Seraphina Pekkala (Eva Green), muncul dengan adegan memanah sambil terbang dengan sapu terbangnya. Bagus sekali! Si ratu penyihir digambarkan sangat cantik, dan itu sangat berhasil.

Scene kutub utara yang ditampilkan juga amat mempesona. Istana para beruang es, perkelahian antara beruang untuk memperebutkan tahta, dan Bolvangar, tempat penelitian Magisterium juga digambarkan sesuai dengan yang ada di novel. Bagaimana rombongan penyihir terbang di langit kelabu yang dipenuhi salju. Bagus.

Tapi, ada satu hal yang cukup menganggu juga. Khususnya mengenai tokoh Mrs. Coulter (Nicole Kidman). Di novel, dia digambarkan sebagai seorang wanita anggun dan glamour, dengan rambut hitamnya yang berkilau. Dan ternyata tokoh ini malah diperankan oleh artis yang notabene berambut pirang.

Kalau soal kecantikan dan keglamouran, Nicole memang cocok sekali. Tapi, ini jadi tidak sesuai dengan karakter asli dari penulis novel. Menurutku, rambut hitam identik dengan nuansa misterius. Tokoh Mrs. Coulter digambarkan sebagai wanita penuh kekuasaan dan kaya raya. Namun sangat egois dan tidak punya hati nurani. Dia juga seorang wanita licik yang memiliki rencana pribadi untuk bisa selalu menguntungkan dirinya. Tidak ada seorangpun yang berani menentangnya. Hanya dengan tatapan mata dinginnya saja, orang akan menuruti perintahnya.

Menurutku, efek ini kurang mengena kalau dimainkan oleh seorang wanita yang berambut keemasan. Yang mencolok hanyalah kesan, kaya, glamour dan penuh kekuasaan. Tapi, untuk kesan kejam dan misteriusnya, Nicole Kidman tidak cukup bisa menampilkannya.

Dan yang paling akhir adalah bagaimana kisah novel yang cukup panjang ini telah dipersingkat menjadi sedemikian rupa. Yang menurutku malah memotong kesan film petualangannya. Mungkin kalau durasi filmnya ditambah, efeknya akan lebih terasa.
Dan aku tetap lebih menyukai versi novelnya saja.

PS: Untuk kawan-kawan yang menyukai artikel-ku tentang film, selanjutnya aku akan memindahkah tulisan tentang film ke blog khusus: Cerita Film. Tapi artikel yang masih ada disini masih tetap akan disimpan, hanya saja tidak akan bertambah lagi. Karena untuk selanjutnya, artikel tentang film akan kutuliskan di blog film itu saja. Terimakasih

2 comments:

  1. Wah kakak suka Rhe Golden Compass Juga..???
    Aku seh suka sama film2 yang kakak bilang di atas..
    apalagi yang harry potter...
    tapi yang ku kagumi sebetulnya bukan substansi dari novelnya..
    tapi kekuatan imajinasi penulisnya...........

    ReplyDelete
  2. Setuju, Gus.
    Yang membuat film dan novel fantasi menjadi besar adalah kekuatan imajinasi penulisnya. Bukan mengenai makna ceritanya. Tapi yah memang tidak semua orang suka bermain-main dengan imajinasi. Lebih suka yang pasti-pasti. Kalau menurutku, tidak ada salahnya sekali-sekali bermain-main dengan imajinasi. Iya kan? ^_^

    ReplyDelete

Visit my other blogs:
Mommy Mayonnaise
Mirror On The Wall
Cerita Film

Spamming and insulting comments are not allowed and will be deleted for sure. Thanks for sharing your opinions.

Shelfari: Book reviews on your book blog
Blog Widget by LinkWithin
 

~Serendipity~ | Simply Fabulous Blogger Templates | Mommy Mayonnaise | Female Stuff