Friday, September 18, 2009

THR Si Tukang Sampah

Pulang dari jalan-jalan hari kemarin, aku dibuat bingung dengan laporan dari pembantu rumah. Katanya, orang yang biasa mengangkut sampah di kompleks perumahan kami datang dan minta THR sama kami. Apa? Nggak salah tuh orang? Ada urusan apa dia minta THR sama kami? Waktu pembantu rumahku menanyakan THR seperti apa yang dia maksud, dia cuma bilang:
”Yah, bisa minuman botol atau roti kaleng lah.”
Weeewww.. Ini orang, sudah mintanya maksa, dia pula yang menentukan bentuk THR nya.

Sebenarnya aku sudah agak kesal ”ditodong” seperti itu. Aku merasa tidak punya kewajiban sama sekali untuk memberikan dia Tunjangan Hari Raya. Bonus itu cuma aku berikan untuk pembantu rumahku. Ya wajarlah. Dia kerja seharian di rumah. Mencuci, menyapu, menyetrika dan mengepel. THR adalah seperti bonus untuk menyenangkan hatinya menyambut Lebaran. Tapi si tukang pungut sampah ini siapa? Datangnya cuma dua kali seminggu dan angkut sampahnya tidak bersih alias ada yang berceceran kemana-mana. Dan yang lebih buat kesal lagi, mereka bilang tidak mau mengangkut sampah rumput dari depan rumah.

Biasanya sekali sebulan aku bayarin tukang rumput untuk membabat rumput di halaman depan dan belakang. Habis dibabat, rumput-rumput itu biasanya dimasukkan ke dalam beberapa goni dan diletakkan di samping tong sampah. Jadi, kalau truk pengangkut sampahnya datang, sekalian angkut rumput yang di dalam goni. Eh, mereka protes. Katanya, sampah rumput harus dibuang sendiri. Heran. Tukang sampah kok milih-milih sampah mana yang mau dibuang dan sampah mana yang harus dibuang sendiri. Padahal dia tinggal mengangkut dengan truknya, bukan panggul sendiri. Untungnya tukang potong rumput langgananku itu baik. Jadi, habis potong rumput dia yang buang rumputnya.

Membayangkan hal yang satu ini saja, sudah cukup membuatku keberatan ketika ditodong harus memberikan THR untuk mereka. Tapi rasanya capek juga kalau harus repot-repot meladeni mereka untuk bilang kalau aku keberatan dengan todongan THR itu. Akhirnya aku memutuskan untuk memberikannya juga dengan tidak rela. Aku membeli sebotol sirup markisa saja. Daripada ribut. Berapalah harga sebotol markisa, kan? Lalu ketika keesokan harinya, si truk pengangkut sampah datang lagi lengkap dengan teriakan-teriakan memanggil, aku menyuruh pembantu rumah untuk memberikan sirup markisa itu lengkap dengan wanti-wanti seandainya dia menanyakan aku, bilang tidak ada di rumah.

Ternyata dia tidak mengatakan apa-apa, kecuali menerima sirup itu dan mengucapkan terimakasih. Aku perhatikan dari balik kaca gelap jendela, kalau tukang angkut sampah itu tidak memanggil pemilik rumah di depan ataupun di kiri-kanan rumah kami. Berarti dia tidak "menodong" mereka dengan THR kan? Aku jadi berpikir jangan-jangan kami ditipu nih sama mereka. Jangan-jangan hanya kami saja yang kena todong seperti itu. Atau mungkin semua dimintai juga, tapi hanya kami saja yang bersedia memberikan. Langsung dipenuhi pemikiran negatif.

Tapi kemudian aku tersadar. Bukankah seharusnya aku bersyukur karena ternyata mampu memberikan sesuatu untuk mereka? Ketika orang lain yang jauh lebih mampu dari kamipun memilih untuk tidak memberikan, kami masih bisa memberikan sebotol sirup sebagai THR mereka?

Mungkin aku hanya kesal karena tindakan mereka yang menurutku kurang menyenangkan dengan memilih-milih sampah mana yang mau diangkut dan mana yang harus dibuang sendiri. Mungkin juga aku kesal karena mereka kuanggap kurang sopan karena dengan tenangnya mengatakan: ”Kami minta THR.” Dan rasa kesal pulalah yang telah membuatku ”tega” hanya memberikan sebotol sirup saja dan bukannya setengah lusin sekaligus.

Entahlah. Tapi kekesalanku jadi berkurang begitu melihat ternyata tidak semua pemilik rumah yang mau memberikan apa yang mereka minta itu. Mudah-mudahan saja pemberian kecil dari kami itu berguna. Karena aku sadar, THR pasti memberi kesan tersendiri bagi setiap orang yang menerimanya. Apalagi mereka yang memerlukannya untuk berhari raya. Selamat Lebaran untuk kawan-kawan yang merayakannya.

4 comments:

  1. Di bulan ramadhan ini biasa orang seperti itu, bahkan tidak sedikit yang merampok, menipu dan memaksa seperti itu. Tp jika kita memiliki sesuatu yang berlebih, tidak ada salahnya kita memberi kepada orang yang memang membutuhkan, sebagai syukur atas nikmat yang diberikan Allah pada kita.

    Selamat 'iedul fitri sobat, dari kami sekeluarga.
    Mohon maaf lahir bathin. Taqabbalallahu minna wa minkum...

    ReplyDelete
  2. Saya mengucapkan selamat hari raya idul fitri 1 syawal 1430 H

    Mohon maaf Lahir dan Bathin.

    Saya belum dapet THR nih mbak,. heheh... maklum masih pegawai baru

    ReplyDelete
  3. salam sobat,
    manteb tulisanya, alangkah baik kalau pihak berwajib bisa menyadari hal begini....

    terima kasih infonya.

    ReplyDelete
  4. Wah..
    Cerita yang sarat makna nie mbag..
    hhe..
    keep blogging
    ^^

    ReplyDelete

Visit my other blogs:
Mommy Mayonnaise
Mirror On The Wall
Cerita Film

Spamming and insulting comments are not allowed and will be deleted for sure. Thanks for sharing your opinions.

Shelfari: Book reviews on your book blog
Blog Widget by LinkWithin
 

~Serendipity~ | Simply Fabulous Blogger Templates | Mommy Mayonnaise | Female Stuff