My dear, Asha

Dear Asha, my lovely daughter,
---------------------------------
I always wonder what exactly my purpose of cleaning the house everyday anyway. Each time I put all your legos and cards and all your toys neatly back into your pink box, somehow I will see you put them all back out of it and leave them untidy on the floor. The strange thing is that you seldom play with them, dear. You just love to see them scattered all over the floor, don’t you?
Don’t you know that I step on your pointy legos most of the time? Can’t you see me grimacing every time it happens to me? It hurts. I bought you that big pink box for a purpose, dear; as a cute storage where you can put all your stuff safely. You can always open it anytime you want to play with your toys but could you please put them in back after playing?
Sometimes when I feel so mad (usually after another step on your legos again) I make a promise in my heart that I’m going to throw away all those stupid legos silently when you were asleep. But when I got a chance to do it, I canceled my plan over and over again thinking about how you might look for them when you awake and how you love to play with them.
But then I found out about this beautiful quote:
“Someday you will wake up and the house will be clean. But your babies will be all grown up and on their own. So enjoy the mess while you can. Along with it enjoy your kids.”
It’s like a lighting striking into my brain telling me that I may not see this happens again next year or the years after. My baby girl will soon grow up and decide to store those legos and toys in the garage. At that time my house will be clean and tidy but its because she will choose to be with her friends instead of staying at home with me. Then I will miss the time when I have to tidy up all her toys again.
Alright then my baby girl.. enjoy your time messing up the house with your legos and toys. I will just smile and enjoy every move you make there and thank God for giving you to enliven my house. Love you SOOOO much.. XoXo

Love,
Your Grateful Mommy




Foursons

Upin-Ipin versi Indonesia

Banyak orang sekarang “mengelu-elukan” Upin dan Ipin sebagai tontonan bermanfaat untuk anak-anak. Ada benarnya juga. Aku baru beberapa kali menonton acara ini, tapi aku bisa melihat kalau banyak nilai-nilai baik yang ditanamkan di dalamnya. Meskipun sebenarnya aku lebih tertarik mendengar logat dialog melayu para pemainnya daripada mendengarkan inti pembicaraannya. Hehehe..
Tapi berhubung aku jarang sekali buka channel lokal (karena pakai tv kabel) anakku malah lebih suka dengan Teletubbies, In The Night Garden, Fimbles dan beberapa program lainnya di CBeebies. Dia tidak mengenal Upin-Ipin, tapi dia sudah bisa menirukan lagu-lagu yang menjadi soundtrack dari acara-acara di CBeebies itu, meskipun berbahasa Inggris.

Lalu ada teman yang nyeletuk: “Anakmu kok tahunya acara luar negeri, Ris? Biasakanlah dengan produk lokal, kayak Upin dan Ipin gitu.”

Helloooo…. Upin-Ipin itu bukan produk lokal, teman. Itu buatan negara tetangga, Malaysia.
CBeebies dan Upin-Ipin sama-sama produk luar negeri yang terpaksa harus dinikmati anak-anak kita, karena kurangnya acara anak-anak produk lokal yang bermutu di televisi.

Tanpa bermaksud mendiskreditkan program acara (atau stasiun tv) manapun, aku memang tidak terlalu antusias untuk menonton program anak di stasiun tv lokal bersama anakku. Untuk apa menonton acara dimana anak-anak diajari tentang “tipuan sihir” yang terlihat tolol, sementara di channel sebelah ada cerita yang lebih bermutu yang mengajarkan lagu-lagu riang gembira sambil bergerak lincah?

Ketika acara anak-anak di Indonesia masih bercerita tentang tarzan-tarzan-an yang hobinya mengerjai orang dewasa (yang anehnya terlihat bodoh semua), Upin-Ipin sudah bercerita tentang bagaimana memperlakukan orang lain dengan lebih baik dan sopan, baik itu orang dewasa ataupun sesama anak-anak. Ketika acara anak-anak di Indonesia menampilkan tentang hebatnya “gol jadi-jadian nan luar biasa aneh” dari seorang anak yang meniru pemain bola asing, CBeebies sedang mengajarkan tentang berbagai jenis hewan dan makanannya sambil bernyanyi dan menari dengan riang. Kreatif!
Jadi, jangan salahkan kalau anak-anak Indonesia tidak cinta produk dalam negeri. Karena program anak-anak kita sudah “diracuni” materi sinetron yang cenderung mengada-ngada (alias jauh dari nyata) dan minim unsur belajarnya. Bandingkan dengan Upin-Ipin dan program dari luar lainnya. Bagaikan bumi dan langit! Kalaupun tidak bisa secanggih Fimbles, buatlah jadi semenarik Upin-Ipin.
Kondisi ini harus segera diperbaiki, menurutku. Masalahnya, adakah pihak yang berminat memperbaikinya?

Si Mbak SPG yang manis

Bagian yang paling tidak menyenangkan buatku ketika sedang belanja bulanan ke sebuah pusat perbelanjaan di Medan adalah: areal penjualan susu bayi dan anak-anak. Gimana nggak kesal, kalau kita selalu dikejar-kejar SPG disana.
Aku nggak tahu dengan ibu-ibu yang lainnya, tapi aku datang ke bagian penjualan susu anak bukan dengan pikiran kosong. Dari rumah, aku sudah menentukan pilihan susu apa yang akan kubeli untuk anakku. Nggak bakal berubah pikiran hanya karena mendengarkan “ocehan” SPG yang terkesan memaksa selama 5 menit di dekat rak susu. Aku tahu, mereka semua sekedar menjalankan tugas. Tapi, bukankah seharusnya mereka terlebih dahulu memperhatikan kondisi si calon pembeli kan?

Kalau si calon pembeli terlihat sedang dalam keadaan terburu-buru, sebaiknya tak usah membuang-buang waktu untuk memaksakan diri menawarkan waktu untuk menjelaskan produk susu dulu. Karena calon pembeli yang seperti ini biasanya tidak mau repot-repot menyediakan waktunya yang sangat terbatas untuk mendengarkan kisah tentang DHA dan berbagai prosesnya. Kemungkinan yang akan terjadi adalah si ibu akan marah dan merasa terganggu karena terpaksa harus berhenti untuk mendengarkan uraian si SPG yang sama sekali tidak dibutuhkannya, sementara si SPG akan merasa tersinggung dengan sikap si ibu dan menganggap si ibu terlalu sombong. Akhirnya, kedua pihak merasa tidak enak.

Kecuali kalau si calon pembeli ini terlihat bingung-bingung sambil sibuk membaca komposisi di kemasan susu, nah ini baru cocok didekati. Mereka biasanya akan dengan senang hati mendengarkan kisah dari si SPG tentang betapa baiknya produk susu yang dijualnya itu. Dengan kata lain, si calon pembeli merasa senang dan kemungkinan membeli produknya, dan si SPG senang karena usahanya membuahkan hasil dan bisa tersenyum seperti mbak-mbak yang manis-manis di bawah ini.
Walaupun sebenarnya isi penjelasan dari semua SPG itu sama saja toh. Karena pada intinya akan mengatakan kalau “Produk susu mereka adalah yang terbaik diantara semua produk susu sejenis.” Bahkan mereka bisa menjelaskan “kekurangan” dari susu yang sudah kita pergunakan selama ini dengan sangat “ilmiah” dan meyakinkan. Aku sudah pernah mengalaminya. Hahaha.. Tapi, menurutku, semua produk susu itu adalah baik untuk perkembangan dan pertumbuhan anak. Tidak perlulah saling menjelek-jelekkan. Iya toh?

Lagipula, alasan kita membeli susu bukan melulu karena “janji manis” yang ditawarkan produsen susu itu, tapi juga tentang pelayanan dan cara si SPG memperlakukan calon pembelinya.

Hentikan Tayangan Balita Merokok

Rinto dari Subang dan Galih dari Sukabumi, Jabar mendadak jadi beken dan jadi perbincangan dimana-mana. Orang tua mereka dengan bangga dan penuh senyum memamerkan anak balitanya itu di televisi, untuk menunjukkan “prestasi” unik yang dimiliki anaknya. Apakah itu? Juara olimpiade matematika? Bukan! Atau, juara pidato bahasa Inggris? Bukan juga. Atau bisa berbahasa asing dalam usia yang sangat muda, mungkin? Bukan juga. Yang ini lebih “unik” lagi. Anak-anak imut-imut ini memiliki hobi yang amit-amit. Yaitu, keduanya sangat ahli MEROKOK!
Aku heran melihat orang-orang dewasa di sekitarnya malah tertawa (seakan bangga) ketika melihat Rinto dan Galih mempertontonkan keahliannya merokok, layaknya orang dewasa. Bahkan ada seorang ibu yang terang-terangan menyalakan korek api untuk menghidupkan rokoknya. Lalu si anak akan berdiri selayaknya jagoan, dengan kaki terentang dan tangan terlipat. Asap rokok mengepul-ngepul dari mulutnya. Mengingatkanku pada tingkah polah preman pasar! Akan jadi itukah anak-anak ini di masa dewasanya kelak?

Bukankah seharusnya orang tuanya merasa malu dengan kelakuan anak-anaknya itu? Dan bukannya menunjukkan dengan bangga kepada orang-orang di seluruh Indonesia? Anak seperti itu harusnya diberi pengarahan dan dibantu untuk lepas dari kebiasaan yang orang dewasa saja berusaha untuk menghindarinya itu. Aneh bin ajaib!

Keluarga Rinto dan Galih dinyatakan sebagai keluarga yang kurang mampu dan memang terlihat jelas dari kondisi hidup mereka. Tapi, kok mereka mampu membeli rokok ya? Apalagi anak-anak itu bisa menghabiskan 1-2 bungkus rokok perharinya. Katakanlah mereka menghisap rokok yang murah seharga 5000 rupiah. Dalam sebulan saja, mereka harus “membakar” uang sebanyak 150 ribu untuk sebungkus rokok perharinya. Kalau bisa membuang uang sebanyak itu untuk rokok, nggak usah cerita jadi keluarga kurang mampu lah! Kalau keluarga kurang mampu, uang sebanyak itu bisa dipergunakan untuk membeli beras atau biaya sekolah.

Ada pendapat kalau latar belakang kemiskinan dan kurangnya pendidikan orang tuanya lah yang mengakibatkan “fenomena” ini terjadi. Orang tuanya “tidak tahu” kalau yang mereka anggap sebuah kebanggaan itu sebenarnya adalah AIB!
Tapi menurutku, media lah disini yang menjadi biang keroknya. Untuk apa meliput kelakuan buruk seperti itu di televisi, kalau tidak ada tujuan dan jalan keluarnya? Kalau pelaku korupsi yang diberitakan, itu karena menyangkut hajat hidup orang banyak, dan rakyat berhak mengetahui proses hukumnya. Sekaligus untuk memberi efek jera bagi pelakunya, karena malu.

Nah, kalau balita yang merokok, untuk apa diberitakan coba? Jangan-jangan pemberitaan ini malah “memancing” balita-balita lain yang kebetulan menonton untuk ikut mencoba-coba menghisap rokok. Kan hebat, jadi bisa masuk tv. Dan orangtuanya malah jadi bangga karena anaknya “masuk tv” karena sudah bisa merokok di usia dini. Makanya dia masih bisa mempertontonkan barisan gigi di senyum lebarnya itu di depan kamera.
BERHENTILAH MENAYANGKAN BERITA BALITA MEROKOK INI DI TELEVISI! 
Jangan biarkan mereka menjadi topik pembicaraan dan menjadi “orang terkenal” sehingga berpotensi untuk mempengaruhi orang lain agar menirunya. Televisi punya pengaruh yang sangat besar. Berita ini malah lebih “aib” daripada berita koruptor, sehingga tidak layak diberitakan. Karena yang menjadi topiknya adalah anak-anak yang bakal memimpin bangsa ini di masa depan. Anak-anak seperti inikah yang akan memimpin negara ini kelak? Ampun DJ!!!

Berhentilah MENGGEMUKKAN bayi

Sekarang, aku mau bercerita untuk satu hal yang pernah kuamati langsung. Yaitu, permasalahan obesitas pada seorang gadis yang sedang beranjak remaja. Kita sebut saja namanya Aura. Memang, untuk kategori anak seusianya, Aura termasuk gendut dan bongsor. Tak heran, nafsu makannya memang besar. Dia bisa makan lebih dari 5x sehari kalau ibunya memasak menu favoritnya.

Kalau diperhatikan lebih jauh, Aura cenderung introvert dan kurang pergaulan. Kalau bicara pun hanya sepatah-sepatah dan tidak jelas. Menyadari kalau masalah kelebihan berat badannya itulah yang membuatnya seperti itu, ibunya memaksa Aura untuk mengikuti program diet yang lumayan ketat, padahal dia baru kelas 6 SD.
Ibunya dengan terbuka dan bangga mengatakan kalau anaknya itu memang sedang mengikuti program diet, bahkan sampai ke dokter segala, biar berat badan Aura turun dengan cepat. Awalnya sih berhasil, Aura terlihat lebih langsing. Tapi dia dilarang makan apapun di luar jam makannya yang hanya dua kali sehari. Apalagi minum susu? Jangan coba-coba. Tapi kelangsingan itu hanya bertahan sebentar. Beberapa bulan kemudian, Aura kembali terlihat gendut seperti dulu. Ibunya beralasan kalau Aura ternyata tidak bisa menahan nafsu makannya. Meskipun dilarang, dia sering makan dengan sembunyi-sembunyi. Akhirnya, program diet nya gagal total!

Aku merasa kasihan pada Aura dan kurang setuju dengan program diet ketat dari si ibu. Anak seumur Aura sedang aktif-aktifnya berkegiatan dan sedang sibuk-sibuknya di sekolah. Seharusnya, dia malah harus berusaha agar asupan makanan dan gizi ke tubuhnya seimbang dengan banyaknya energi yang harus dikeluarkan. Pastinya harus makan yang teratur tiga kali sehari dengan lauk pauk lengkap. Ini kok malah dilarang makan? Gimana kalau nanti dia kena sakit maag karena hanya makan dua kali sehari dan tanpa susu? Gimana kalau nanti dia pingsan di sekolah karena kekurangan tenaga? Gimana kalau dia jadi kurang konsentrasi belajar karena perutnya lapar?
Orang tua memang banyak maunya. Dulu, waktu bayi, si anak ‘dipaksa’ makan banyak dan minum susu berkali-kali dalam sehari (melebihi takaran yang dianjurkan di kemasannya) biar terlihat gendut. Kenapa? Karena bayi yang gendut identik dengan menggemaskan. Kadang, si bayi/balita sampai terlihat sesak napas atau sering gumoh saking kenyangnya. Biasanya bayi yang kelebihan berat badan juga jadi malas bergerak alias kurang aktif. Dan dia terbiasa memakan apapun, kapanpun dia mau dengan porsi yang tidak terbatas.

Tapi, kenapa begitu perut si bayi terbiasa menerima makanan dalam porsi besar dan dalam waktu yang cukup lama, lalu si ibu tiba-tiba memaksa mengubah kebiasaan itu sesudah dia beranjak remaja?

Penelitian medis menyatakan kalau bayi yang kelebihan berat badan, kemungkin besar akan mengalami obesitas di masa dewasa. Anak seperti Aura, yang sudah terbiasa makan dalam porsi besar sejak kecil, pastinya akan cukup sulit untuk melepaskan kebiasaannya itu. Padahal, di masa sekarang, remaja bisa bertingkah laku cukup kejam terhadap rekan-rekannya remaja yang lain. Tidak segan-segan mengejek dan mengintimidasi siapa-siapa yang mereka anggap aneh dan tidak gaul. Dan obesitas adalah salah satu bahan ejekan yang tidak pernah habis dimakan waktu.

Aura yang sudah tidak percaya diri dengan berat badannya, masih harus bergumul lagi dengan ejekan teman-temannya di sekolah. Di rumah, masih harus berhadapan dengan omelan ibunya tentang pengaturan dietnya. Alhasil, dia tumbuh sebagai anak yang introvert dan tidak percaya diri. Dia merasa ada yang salah dengan tubuhnya dan dengan dirinya.

Kenapa tidak dari awal saja orang tuanya menjaga agar anak-anak seperti Aura tidak mengalami obesitas ya?  

Sekarang, sudah tidak trend lagi memiliki anak yang terlalu gendut. Anak seharusnya dibiasakan dengan berat tubuh yang proporsional dan ideal sesuai usianya. Jadi, sewaktu dia beranjak dewasa, dia tidak harus menghadapi masalah obesitas seperti ini. Pola makannya juga harus diatur agar tidak berlebihan. Anak yang gendut itu belum tentu sehat. Tapi anak yang berat badannya proporsional sudah pasti lebih sehat dan lebih aktif.
Menurutku, berhentilah menggemukkan bayi kalau nantinya akan menyesal karena punya anak remaja yang kelebihan berat badan.. Membiasakan pola makan yang sehat dan tidak berlebihan seharusnya dilakukan sedini mungkin. Sehingga berat tubuh anak bisa dikontrol dengan baik dan di masa remajanya, dia tidak harus berhadapan dengan masalah berat badan. Kalaupun ternyata anak menjadi gendut karena satu dan lain hal, janganlah terlalu memaksakan program diet ketat ketika umurnya masih terlalu muda. Karena diet bukan melulu tentang mengurangi makanan, tapi juga tentang niat yang teguh dari pelaksananya. Dan anak umumnya masih belum memahami niat itu.

PS: Kalau melihat bayi yang gendut menggemaskan, reaksiku ada dua:
A: Aduh, gendutnya kau, nak. Aku jadi pengen mencubit pipimu…
B: Jangan terlalu gendut, nak. Kalau nanti remaja kau masih gendut juga, pasti akan jadi bulan-bulanan kawan-kawanmu…

Dunia Anak Indonesia

Hari Minggu kemarin, sewaktu kami sedang berhenti di perempatan lampu merah, aku melihat sebuah baliho besar yang mengiklan-kan acara final pembuatan film anak-anak. Bukan acaranya yang menarik perhatianku, tapi slogan dari acara itu yang dicetak tebal dan dituliskan di bagian yang paling mencolok.
Kalimat sederhana tapi penuh makna.

Begitu selesai membaca kalimat itu, mata akan langsung beralih ke segerombolan anak jalanan yang berkumpul di bawah lampu merah dekat baliho itu berdiri.

Ada yang jadi pengamen dengan alat musik seadanya di jendela-jendala mobil. Ada juga yang jadi pengemis sambil menggendong adiknya yang masih balita di punggungnya, lalu berlarian kesana-kemari. Ada juga seorang anak laki-laki yang membawa kemoceng lusuh kesana-kemari dan menawarkan jasa mengelap debu instan sambil menunggu lampu kembali hijau. Biasanya usahanya itu dibalas dengan klakson dari pemilik mobil yang menyuruhnya berhenti mengelap mobilnya. Inikah wajah dunia anak Indonesia?


Anak-anak Indonesia kebanyakan sudah mulai bekerja mencari uang sejak usia yang sangat dini. Mereka bahkan mengerjakan pekerjaan yang orang dewasa saja menolak untuk mengerjakannya. Tapi, kenapa ada orang yang mau mempekerjakan tenaga anak-anak yang masih kecil seperti itu? Jawabannya singkat. Karena anak-anak bisa dibayar dengan upah rendah dan selalu bisa diintimidasi oleh majikannya. Itu untuk anak-anak yang bekerja di tempat-tempat menyedihkan, seperti menjadi pemulung, pengemis bahkan anak-anak yang menjadi kuli di tambang-tambang. Mereka bekerja karena terhimpit masalah ekonomi. Mereka mungkin bahkan tidak berani memikirkan kemungkinan untuk bersekolah.

Apakah himpitan ekonomi adalah satu-satunya alasan anak memasuki dunia kerja terlalu dini? Tidak. Karena ternyata anak-anak yang memiliki orang tua yang mampu secara finansial pun tetap tercebur juga. Contohnya sudah sering kita lihat, seperti anak-anak yang menjadi artis di televisi. Seperti: Marshanda, Tina Toon, Baim ataupun

Alanis si keriting lucu yang dulu membintangi sinetron Doo Bee Doo. Mungkin, karena kita melihat mereka selalu tampil manis dan ceria di depan tv, kita jadi lupa kalau mereka hampir tidak memiliki waktu untuk bermain karena harus melewatkan hari di lokasi syuting sinetron kejar tayang.

Orang tua dari beberapa artis-artis cilik ini bahkan mengaku dengan terus terang, kalau anak mereka kadang suka rewel di lokasi. Sehingga harus mencari cara untuk bisa membantu anak-anak mereka kembali memperhatikan proses syuting. Anak-anak itu bahkan makan, tidur dan mandi di lokasi. Alanis pemeran Doo Bee Doo dulu bahkan sudah mulai syuting sejak dia belum bisa berbicara. Tugasnya cuma tampil bengong di depan kamera dan memancing rasa gemas penonton. Dia adalah salah satu artis cilik yang mengucapkan kata-kata pertamanya di hadapan kru sinetron dan bukannya di rumah bersama orang tuanya.

Inilah dunia anak Indonesia. Anak yang bekerja adalah hal lumrah disini. Orangtua beranggapan kalau hal itu wajar, mengingat anak memang harus bekerja membantu orangtuanya yang tidak mampu. Anak menganggap bekerja pada usia dini itu kerena, apalagi kalau menjadi artis. Kan orang tuanya masih kebagian jatah menjadi menejer dan bisa mengatur arus keuangan yang dicari dari peluh anaknya yang masih balita.

Mungkin saja inilah yang menjadi latar belakang dari pembuat slogan di atas.
”Dunia anak bukan bekerja. Dunia anak dunia belajar, bermain dan berkreasi!”

Hari Ini Harinya Asha

Timang-timang, anakku sayang…
Jangan menangis, bapak disini.
Timang-timang, anakku sayang...
Jangan menangis, bunda bernyanyi.


Bila kelak engkau dewasa
Sayangi saudara, sayangi sesama, dengan cinta.


Jujur lakumu, jujur ucapmu,
Menjalani hidup...
Cantik jiwamu, cantik parasmu,
Kala kau tersenyum


Timang-timang, anakku sayang...
Cepatlah tidur, janganlah nakal.
Timang-timang, anakku sayang...
Mimpi yang indah nyenyakkan tidurmu.


Doa kami sertakan,
Temani dirimu menjalani hidup, oh anakku..


Jujur lakumu, jujur ucapmu,
Menjalani hidup...
Cantik jiwamu, cantik parasmu,
Kala kau tersenyum


(Judul: Timang-Timang.
By: Kris Dayanti feat. Anang)


Tak ada kata yang bisa mewakili momen spesial ini, selain lirik lagu berisi doa terindah diatas. Khusus untuk malaikat kecil kami: Agasha Batubara. Selamat ulang tahun yang kedua. Alunan doa tak akan pernah habis kami tujukan buatmu...

Menanti Si Buah Hati

Diantara semua orang yang berkomitmen untuk menikah, sebagian besar pasti menginginkan kehadiran anak dalam rumah tangga mereka. Aku bilang sebagian besar, karena memang tidak bisa dipastikan kalau semua pasangan suami istri di dunia ini memiliki keinginan dan kesiapan untuk tanggung jawab itu. Ada banyak alasan. Dan itu semua adalah hak dari masing-masing orang.

Kalau untukku sendiri, kehadiran anakku adalah anugerah terindah yang diberikan Tuhan kepada kami berdua. Asha tidak menunggu berlama-lama untuk menemui kami.

Karena itu, dia juga sudah berkesempatan untuk ikut serta merayakan ulang tahun pernikahan kami yang pertama. Dan biasanya kejadian seperti ini akan diikuti oleh pertanyaan-pertanyaan seperti:

”Wah, topcer ya. Apa rahasianya?”
“Cepat banget dapatnya, Ris? Pakai bantuan dokter nggak?”
”Eh, sering minum apa sih, bu? Kok bisa cepat dapat anak gitu?”

Dan dengan jujur kukatakan, aku tidak bisa memberi jawaban dengan pasti. Maaf..

Orang bijak bilang, setiap manusia sudah punya garis tangan sendiri-sendiri. Mungkin garis tangan aku dan suami adalah cepat dikaruniai anak. Sementara seorang sahabat, yang sudah menikah hampir sepuluh tahun, tetap masih belum menerima karunia ini. Padahal dia sudah mengunjungi semua dokter kandungan ternama yang dibisikkan kawan-kawannya. Sudah minum aneka ramuan jus, walaupun aroma dan rasanya aneh. Seperti jus toge, misalnya. Bayangkan saja, jangan dijus, dimakan seperti layaknya makan sayur biasa juga rasanya sudah anyep. Apalagi di-jus?

Yang paling aneh adalah kalau mengunjungi pengobatan alternatif. Kusebut alternatif karena pengobatan cara ini memang tidak bisa dibuktikan secara medis, namum tetap saja punya daftar pelanggan yang membludak. Ada yang menganjurkan agar ibu-ibu yang ingin segera hamil agar minum bubuk cecak yang sudah dibakar hingga kering lalu ditumbuk sampai halus. Dan si pasien memang benar-benar melakukannya.

Ada yang mengunjungi sebuah praktek dokter kandungan terkenal lainnya, yang menurut bisik-bisik, bertangan dingin. Artinya hampir semua pasien yang berkonsultasi padanya, pasti sukses. Dan si istri akan segera mengandung. Syaratnya, cukup dengan meminum sebotol air yang diramunya sendiri (katanya dengan resep rahasia) secara teratur. Sederhana saja, ya? Tapi begitu mengetahui harga minuman botol itu mencapai 5 juta rupiah per-botolnya, kesan sederhana itupun menguap begitu saja. Tapi, tetap saja ada pasien yang rela membelinya.
= Namanya juga usaha =

Gambaran besar yang bisa kulihat disini adalah: eksploitasi terhadap pasangan suami istri yang telah lama mendambakan kehadiran seorang anak dalam kehidupan mereka.

Para orang tua jadi terkesan menutup mata terhadap kondisi dan syarat-syarat yang harus mereka penuhi demi tercapainya harapan segera memiliki buah hati. Kalau terapi ke dokter kandungan pun ternyata tidak membuahkan hasil, maka pengobatan alternatif pun dipilih sebagai jalan keluar yang lain. Si istri akan tetap meminum segala ramuan yang diberikan. Meskipun terpaksa harus menutup hidung rapat-rapat karena baunya, menelan dengan cepat-cepat karena rasanya yang aneh, dan sebagainya. Dan bagi mereka yang tidak bermasalah dengan uang, maka pasti akan memilih cara dengan membeli minuman botolan yang harganya jutaan itu. Atau mungkin dengan cara bayi tabung, seperti Inul.

Tapi apakah itu semua bisa dijadikan kepastian agar bisa memperoleh anak? Tidak. Tulisan ini kubuat karena aku mengenal langsung seorang teman yang sangat ingin memiliki anak dan bersedia melakukan segala cara, termasuk cara-cara yang di atas, agar bisa cepat hamil. Tapi sudah bertahun-tahun dia mengikuti pengobatan, dari yang medis sampai alternatif, dari yang biayanya puluhan ribu sampai jutaan rupiah, tapi tetap saja masih belum mendapatkan anak.
”Aku sudah capek, Ris. Semua cara sudah kami ikuti. Tak ada lagi yang tersisa. Tapi tetap saja belum ada hasilnya.”

Sementara di sisi lain, sepasang suami istri, yang baru menikah selama tiga tahun dan masih belum mendapat anak, ternyata mengalami nasib yang berbeda. Mereka tidak perlu ke dokter, tidak perlu berobat alternatif, si istri tidak perlu makan cecak, dan sebagainya. Mereka berdua hanya sepakat, agar si istri berhenti dari pekerjaannya dan mengurus rumah saja. Mereka khawatir kalau pekerjaan si istri di luar rumah telah membuat dia lelah dan stress. Diharapkan, kalau dia tinggal di rumah dan menyerahkan urusan mencari nafkah kepada suaminya, dia tidak akan terlalu lelah. Dengan itu diharapkan si anak yang ditunggu-tunggu segera datang. Dan benar saja. Tidak perlu menunggu lama, hanya dalam hitungan bulan saja, si istri sudah hamil.

Kesimpulannya, manusia hanya bisa berusaha tapi Tuhan-lah yang menentukan. Setelah semua usaha dan ikhtiar yang kita lakukan ternyata masih tetap belum membawa hasil, kita hanya bisa memasrahkan diri kepada Yang Kuasa. Tidak perlu menyesali keadaan. Tidak perlu mempertanyakan nasib. Karena kedua hal itu adalah pintu masuk menuju ke rasa frustrasi. Yang malah bisa menggerogoti keutuhan rumah tangga itu sendiri.

Kalau latar belakang kita untuk memiliki anak adalah karena naluri kita untuk mengasuh, maka yang bisa kita sebut sebagai anak, bukan melulu harus yang lahir dari rahim kita. Masih ada anak-anak lain di dunia ini yang merindukan kasih sayang orang tua. Anak-anak yang terlahir bahkan tanpa usaha dan ikhtiar dari orang tuanya, yang begitu lahir malah terbuang sia-sia. Masih ada anak yang lahir di tengah keluarga yang tidak mampu. Mereka semua juga anak-anak. Kenapa tidak mengasuh mereka saja?

Dengan demikian, berkuranglah keluarga yang bercerai karena tidak bisa mempunyai anak. Berkurang pulalah anak-anak yang menderita karena tidak mempunyai orang tua. Sambil berharap, semoga Sang Empunya Kehidupan masih berkenan memberikan karunia-Nya pada suatu hari nanti.