Vulcanic ashes from Mount Sinabung in Medan

When I woke up this morning, I saw something stranges has happened since last night. I opened the window and I saw a quite thick layer of dusts on my neighbour's roof (I was on my house's second floor). I went outside the my house to find out what's happened right away. In my front yard, I found the same kind of dusts also covering all my plants including my car. Unfortunately, my car is WHITE!  It's been raining all night long and  I must parked my car outside (unfortunately again) since my husband is out of town and he parked his car inside. So his car is safe and mine is a mess *sigh



I looked closer to the dusts. Soft grey with soft texture just like ashes from cigarette. And its all over the place. And then I found out that it was actually volcanic ashes from Mount Sinabung which has been frequently errupted (minor erruptions) these couple of weeks.
Mount Sinabung is located in Karo Regency, North Sumatra, Indonesia which is about 3 hours from our place, Medan, which actually is far enough. Yet the wind apprently succeed to bring the ashes all way down to Medan.

Almost every car we found on the street covered in ashes as well and it's (as I said before) strange.....
Like this car, I found when parking in front of a restaurant



Mount Sinabung is actually beautiful especially on a clear day. Two places near it are familiar with tourists, Brastagi and Kabanjahe. Two beautiful places with the pleasant mountain air. I am sure that those places will look quite different right now, covered in vulcanic ashes which I'm sure will be thicker than we have here. I hope Mount Sinabung will be just fine and one day we will be able to see it again.



Uang Parkir Masuk Kantong Siapa?

Kalau sudah yang namanya hari Libur, pasti semua tempat makan dipenuhi pengunjung. Betul nggak? Mungkin karena yang ibu-ibunya juga jadi pengen libur masak. Atau bisa juga karena ingin menikmati hidangan restoran sekali-sekali. Jadi, tak perlu heran melihat barisan kendaraan bermotor yang berjubel memenuhi halaman restoran, bahkan ada yang sampai memenuhi pinggir jalan raya.

Biasanya yang seperti ini dialami oleh restoran yang sudah terkenal namanya. Terkenal karena enak dan terkenal karena murah. Hehehe.. Karena ”merakyat”, biasanya juga pihak rumah makan tidak memiliki area khusus untuk parkir pengunjung. Berbeda dengan restoran yang bisa dikategorikan restoran mewah, biasanya pasti menyediakan area parkir khusus yang dijaga satpam. Pengujung bahkan tidak perlu membayar uang parkir alias gratis. Hanya saja, biasanya restoran mahal seperti ini tidak terlalu dipadati pengunjung, jadi pengaturan parkirnya juga lebih mudah.

Tapi bagaimana dengan restoran murah meriah yang menjual makanan yang tak kalah enak dengan restoran mahal? Dalam konteks ini, yang kumaksudkan (berdasarkan pengalamanku) adalah restoran cina. Mayoritas orang Medan adalah penyuka makanan cina. Apalagi yang berada di pinggiran jalan atau yang sekedar membuka usaha di lantai dasar rukonya. Selalu padat pengunjung. Mereka tidak punya tempat parkir khusus, jadi pengunjung yang berniat makan di tempat itu harus memarkirkan kendaraannya di sepanjang pinggir jalan.

Kalau hari libur, pinggir jalan itu akan dipenuhi kendaraan yang parkir di kedua sisinya. Begitu berjubelnya, sampai-sampai kendaraan lain yang hendak melintas melalui jalan itupun agak terganggu. Dan siapakah yang diuntungkan oleh keadaan ini? Jawabannya adalah tukang parkir.

Tukang-tukang parkir ini juga bisa lebih dari satu orang. Sepertinya sudah ada pembagian area yang sudah disepakati bersama. Dan satu dengan yang lain tidak akan merebut ”jatah” yang bukan miliknya. Hanya dalam hitungan beberapa menit saja, tangan mereka sudah dipenuhi lembaran-lembaran seribu rupiah yang diberikan para pemilik kendaraan. Aku jadi bertanya-tanya. Kemana larinya uang parkir yang diperoleh mereka itu setiap harinya ya?

Dari penampilan, biasanya tukang-tukang parkir ini akan menggunakan rompi warna oranye terang dengan tulisan ”Dishub” di punggungnya (meskipun ada juga yang tidak). Tapi, apa yang bisa menjamin bahwa mereka benar-benar berasal dari dinas pemerintahan? Toh rompi sederhana seperti itu bisa dengan gampang dibuat kan? Apalagi para tukang parkir ini biasanya tidak memiliki bundel kwitansi resmi dari Dishub. Siapapun yang mengenakan rompi oranye itu bisa saja mengaku-ngaku dari Dishub. Tapi, kepastian mengenai kemana uang parkir yang mereka dapatkan itu akan disetorkan, wallahualam!

Sudah menjadi rahasia umum kalau ”preman” juga mengambil peran dalam ”pengelolaan” uang parkir ini. Kronologisnya begini: setiap orang yang hendak memungut uang parkir dari sebuah lokasi, harus memberikan ”setoran rutin” kepada para preman yang menguasai area tersebut. Mereka akan berbagi hasil. Si tukang parkir menggunakannya untuk mencari nafkah, dan si preman akan ”menjaga” tempat mencari nafkahnya itu. Jadi, meskipun di bagian belakang rompi si tukang parkir bertulisan ”Dishub” tapi uang yang mereka dapatkan akan masuk kantong pribadi.

Mungkin karena uang parkir ”hanyaseribu rupiah, pemilik kendaraan jadi ”malas” berargumen dengan si tukang parkir, misalnya dengan meminta kwitansi untuk pembayaran yang dilakukannya. Bahkan ada pula tukang parkir yang ”berani” meminta pembayaran dua kali lipat, dengan alasan ”setoran hari libur berbeda dengan hari biasa”. Yang tidak mau ribut, langsung saja memenuhi permintaan yang aneh itu. Tapi, orang yang tidak mau dibodoh-bodohi dengan membayar uang parkir sampai dua ribu rupiah apalagi tanpa kwitansi, biasanya akan menolak membayar (biasanya ibu-ibu nih). Itu pun hanya segelintir orang saja. Kebanyakan orang akan mengalah dan meberikan sesuai yang mereka minta. Bayangkan, berapa banyak fulus yang bisa mereka raih hanya dalam satu malam.

Uang parkir bisa dikatakan sebagai sumber pendapatan daerah yang belum dikelola pemda dengan baik. Bisnis perparkiran bisa dibilang tak ada matinya. Karena selama masih ada kendaraan bermotor di daerah itu, maka uang parkir akan selalu mengalir. Sekarang, uang itu masuk ke kantong pribadi orang-orang tertentu. Siapapun bisa menjadi tukang parkir dan memiliki rompi berwarna oranye. Semua pemilik kendaraan tidak mau ambil pusing apakah tukang parkirnya orang pemerintah atau tidak. Yang penting dia bayar parkir, titik. Sekarang, terserah pemdanya. Uang parkir itu mau dimasukkan ke kas pemerintah atau dibiarkan saja masuk ke kas pribadi individual.

Ayo ke Museum Sumatera Utara

Setelah minggu kemarin jalan-jalan ke Istana Maimoon, kemarin Asha melanjutkan jalan-jalannya ke Museum Sumatera Utara di Jl. HM Joni Medan. Aku juga baru sekali ini kesini dan penasaran, seperti apa keadaannya didalam. Apakah akan sesuram yang kubayangkan? Ternyata tidak. Museumnya terlihat modern dan sangat menarik.

Ada banyak hal yang ditunjukkan di museum ini. Mulai dari batu ukiran berbentuk singa yang berasal dari abad ke 19 sampai ke diorama perang zaman Belanda dulu tersedia disini. Waktu kami datang, museum ini dipenuhi anak-anak kecil dan remaja. Meskipun tujuan mereka tidak terlalu jelas. Karena kebanyakan yang datang hanya menghabiskan waktu dengan duduk-duduk di tangga sambil ngobrol dengan temannya.

Tapi, selain banyaknya materi sejarah yang ditunjukkan disini, kentara sekali kalau museum ini tidak dilengkapi dengan penjaga yang memadai. Tidak terlihat penjaga yang mengawasi baik di lantai dasar ataupun di lantai dua. Akibatnya, banyak sekali coretan-coretan yang dilakukan tangan-tangan iseng disana. Tak hanya di dinding saja, tapi juga di patung diorama yang kebetulan tidak tertutup kaca. Aduh, jelek sekali kelihatannya. Masa’ barang-barang museum dipenuhi coretan-coretan seperti itu?

Yang pertama sekali kami lihat adalah patung singa yang terbuat dari batu. Patung ini dibuat pada abad ke-19 dan ditemukan di daerah Padang Bolak.

Disini juga bisa dilihat diorama-diorama menarik yang menggambarkan kehidupan manusia prasejarah.

Bahkan ada kumpulan fosil mamoth dan harimau Sumatera.

Di sebuah area khusus terdapat diorama yang menggambarkan suasana perang melawan penjajah dulu. Tapi kami lebih tertarik melihat mesin tik kuno yang terbuat dari besi ini.

Dan ada beberapa lembar uang kuno yang sudah sulit ditemukan sekarang ini. Tak lupa, Asha juga menyempatkan diri berfoto di depan mariam tomong yang keseluruhannya terbuat dari besi.

Ada juga beberapa proyektil peluru dan koleksi senjata-senjata jaman perang dulu.

Di area perkebunan, terdapat foto-foto yang menujukkan suasana perekrutan kuli-kuli bangunan oleh Belanda dulu, untuk dipekerjakan di perkebunan di Medan. Kebanyakan kuli-kuli ini adalah etnis China yang didatangkan ke Indonesia. Semua ini mengingatkan kembali, bagaimana kemerdekaan ini telah susah payah diperjuangkan. Agar bangsa Indonesia sejajar dengan bangsa lain di dunia ini. Jadi, kejadian dimana meneer-meneer Belanda yang berpakaian jas necis berjalan dengan pongahnya, diikuti oleh seorang penduduk pribumi yang tanpa alas kaki sambil membawa payung besar untuk menaungi majikannya (seperti yang ditunjukkan di foto itu) tidak akan terjadi lagi pada generasi masa kini. Foto-foto itu sungguh membuka pikiran.

Di bagian benda-benda prasejarah juga bisa ditemukan replika berbagai jenis sarkofagus atau peti mati dari tanah Batak.

Hampir semuanya terbuat dari batu raksasa, yang tidak memungkinkan untuk diangkut. Kecuali sarkofagus dari Nias yang terbuat dari kayu besar.

Tapi masih bisa dilihat, karena museum menyediakan replikanya. Juga ada banyak pustaha Batak, atau surat-surat kuno yang masih ditulis di atas kulit kayu lengkap dengan aksara bataknya.

Secara keseluruhan, museum ini sangat menarik dan lengkap. Anak-anak sekolah juga banyak yang mengunjungi museum ini karena ditugaskan dari sekolah. Pastinya akan lebih menyenangkan belajar sejarah dengan melihat langsung, daripada hanya terpaku pada buku pelajaran saja kan? Jadi, lihat langsung pasti lebih asyik. Ayo ke museum..

Istana Maimoon Yang Luar Biasa

Bosan menghabiskan waktu liburan di pusat perbelanjaan, sekali-sekali kita bisa menghabiskan waktu di tempat-tempat bersejarah. Apalagi kalau punya anak kecil. Jadi sekalian bisa mengajarkan mereka tentang tempat-tempat yang bernilai sejarah yang ada di sekelilingnya.

Hari Minggu kemarin, kami bertandang ke Istana Maimoon. Terus terang, ini kunjungan pertamaku kesini, meskipun aku sudah sepuluh tahun tinggal di Medan ini. Menyedihkan ya? Hehe.. Tapi, tak apalah terlambat, asalkan masih sempat.

Istana Maimoon identik dengan Puteri Hijau, puteri Sultan Deli. Dia dinamakan Puteri Hijau, karena setiap kali dia mandi, tubuhnya akan memancarkan cahaya kehijauan. Menurut sejarahnya, puteri yang cantik jelita ini dilamar oleh Sultan Iskandar Muda, penguasa Aceh, untuk menjadi permaisurinya. Namun, Puteri Hijau menolak lamaran itu. Akibatnya, Sultan Iskandar Muda pun memutuskan untuk menyerang Kesultanan Deli.

Ketika hal ini terjadi, Puteri Hijau pun mengubah dirinya menjadi sebatang meriam sakti. Karena meriam ini akan melemparkan batu-batu besar ke arah musuh secara terus-menerus tanpa harus dibantu manusia. Dan karena terus mengeluarkan batu tanpa henti, meriam ini menjadi terlalu panas dan akibatnya terbelah dua.

Bagian bawahnya tetap tertinggal di Kerajaan Deli, sementara bagian pucuknya terlempar hingga ke Barus Jahe, Tanah Karo. Ini foto meriam puntung itu, masih tersimpan di bangunan khusus yang terletak di halaman Istana Maimoon. Meriam ini mendapat perlakuan khusus, karena ada rangkaian bunga dan mangkuk berisi jeruk purut yang diletakkan di dekat meriam itu.

Istana Maimoon sendiri merupakan bangunan yang banyak mengadopsi budaya India. Jadi, berbagai ornamen dan bentuk Istana ini sendiri adalah campuran dari budaya India dan budaya Melayu. Didirikan tahun 1888, bangunannya masih terlihat kokoh dan agung. Tak ada biaya khusus yang dikenakan untuk pengunjung yang ingin masuk dan melihat-lihat ke dalam istana. Hanya dipersilahkan mengisi buku tamu dan memberikan sumbangan seikhlasnya untuk membersihkan kompleks istana.

Yang pertama sekali menarik perhatian ku adalah ornamen yang berada di langit-langit istana. Rumit dan cantik.

Di bagian selasar Istana, ornamen langit-langit sekilas terlihat seperti terbuat dari wallpaper. Tapi ternyata langit-langit itu terbuat dari batu dan dilukis tangan secara manual. Sementara di bagian pendopo tempat singgasana sultan berada, langit-langitnya yang lebih tinggi juga dilukis dengan ornamen yang lebih rumit lagi, tapi yang ini terbuat dari kayu. Langit-langitnya tinggi sekali. Membayangkan kalau bangunan semewah ini didirikan tahun 1888, tak terbayangkan berapa seniman yang dipekerjakan hanya untuk melukis langit-langitnya saja.

Dan ada lampu gantung (chandelier) besar yang berada di pendopo.

Ukurannya besar sekali dengan juntaian lampu-lampu dan bola-bola kristal kecil di setiap sisinya. Lampu gantung ini terlihat modern seperti lampu-lampu gantung yang kita lihat di berbagai show room furniture-furniture mewah yang bertebaran di Medan. Tapi ternyata lampu gantung ini berasal dari Prancis dan didatangkan ke Istana Maimoon pada tahun 1888 juga. Jadi, umur lampu gantung yang terlihat modern klasik itu adalah 121 tahun. Dan sama sekali tidak kehilangan keindahannya. Bagus sekali.

Setiap ruangan di dalam istana memiliki corak tersendiri yang berbeda setiap ruangan. Corak lantai di selasar berbeda dengan lantai di pendopo tempat singgasana sultan berada. Juga berbeda di ruang makan istana. Seluruh lantai di istana ini diimpor dari Italia. Sementara perabotannya berasal dari Perancis. Tak heran, kalau di depan singgasana Sultan sendiri terdapat empat buah kursi panjang dengan lengkung-lengkung klasik seperti yang biasa ditemukan di film-film dengan latar belakang Prancis di zaman kerajaan dulu. Kursi-kursi itu memang sudah nampak kusam tapi kain brokat Prancisnya dengan motif-motif khas dan harga selangit itu masih bisa dinikmati, meski tidak diperbolehkan untuk mendudukinya.

Singgasana sultan memenuhi seperempat bagian ruangan besar itu. Ada kesan agung yang membuat kita tidak berani macam-macam di tempat itu.

Warnanya didominasi kuning dan emas, khas Kesultanan Deli. Singgasana dan karpetnya masih produk original alias belum pernah diganti. Karpetnya tebal sekali. Sekeliling singgasana ini dipagari karena pengunjung dilarang memijak karpet, untuk menjaga agar karpet tua itu tidak semakin cepat rusak. Tapi, herannya ada saja pengunjung yang nekat melompati pagar rendah itu hanya untuk bisa berfoto dekat dengan singgasana. Padahal tanpa harus seperti itupun, hasil fotonya akan tetap bagus. Tanpa ragu, penjaga istana langsung mengusir si ibu-ibu yang sudah panteng siap untuk bergaya di depan suaminya yang berniat memotret. Karena diusir, batallah niatnya dan dengan malu-malu dia keluar dari area singgasana itu.

Di bagian ruang makan istana, terdapat singgasana yang berukuran lebih kecil tempat sultan dan permaisuri duduk ketika bersantap.

Sandaran kursinya tinggi sekali. Kalau yang ini, pengunjung bisa duduk untuk berfoto. Bahkan disediakan penyewaan pakaian adat Melayu dengan biaya 15 ribu rupiah saja untuk yang ingin berfoto. Kami juga sempat berfoto dengan duduk di singgasana itu. Rasanya, bercampur antara sedikit takut akan merusak benda bernilai sejarah itu dengan keinginan untuk merasakan bagaimana rasanya duduk di kursi tempat seorang permaisuri raja berada ratusan tahun yang lalu. Rasanya: AGUNG! Oh ya, kain pelapis kursi ini juga dibuat dari brokat Prancis seperti yang di depan singgasana Sultan. Hanya berbeda warna saja. Di depan brokatnya warna hijau tua, yang di ruang makan berwarna kuning dan emas.

Di sepanjang dinding ruangan dipajang foto-foto hitam putih dan lukisan-lukisan tua yang sudah berumur ratusan tahun. Umumnya foto dan lukisan Sultan-Sultan Deli yang sudah memerintah turun-temurun sejak tahun 1600-an. Ganteng-ganteng dan tinggi besar seperti orang Eropa. Aku lebih tertarik dengan foto-foto permaisuri sultan yang anggun dan ayu. Ada permaisuri yang berasal dari Kesultanan Aceh, Kesultanan Perak dan Kesultanan Bone. Bahkan ada foto permaisuri dari Kesultanan Perak yang difoto dengan rambut terurai. Rambutnya bergelombang dan panjangnya sampai ke lantai. Cantik sekali. Sementara permaisuri yang lain ada yang mengenakan sanggul sederhana, tapi juga tak kalah cantiknya. Tak perlu heran sebenarnya, karena mereka juga sebenarnya adalah puteri-puteri bangsawan yang kemudian dilamar oleh sultan-sultan Deli dan dibawa ke Medan.

Sultan yang termuda sekarang baru berumur 13 tahun dan masih bersekolah. Dialah sultan terbaru sekaligus yang termuda.

Jalan-jalan sebentar di Istana Maimoon ternyata tidak sia-sia. Hanya bisa merasakan berada di bangunan yang sudah berusia 121 tahun saja rasanya sudah luar biasa. Apalagi kalau bisa merasakan duduk di singgasana permaisuri dan melihat ornamen-ornamennya yang luar biasa. Sayang, istana ini kurang terawat. Mudah-mudahan saja tidak rusak. Karena nilai sejarahnya membuat bangunan ini tidak ternilai harganya.

Major Overhaul

Aku bisa menuliskan banyak alasan kenapa aku benci istilah yang satu ini. Untuk kawan-kawan yang sudah akrab dengan byar-prett nya Perusahaan Lilin Negara alias PLN, pasti sudah mengerti apa arti istilah ini. Ini adalah alasan utama yang selalu digembar-gemborkan PLN ketika harus melakukan pemadaman listrik. Ada perbaikan.

Kemarin, aku mengalaminya sendiri dan benar-benar mengesalkan. Mula-mula, listik padam tepat pada jam 8 pagi sampai jam 12 siang. 4 jam. Sialan! Tapi, ya sudahlah. Karena begitu listrik menyala lagi jam 12 siang, kekesalan hati masih bisa terlupakan. Tapi kemudian, listrik padam lagi dari jam 3 sore sampai jam 4 sore, bertepatan dengan mendung tebal yang menggelayut di langit mendung dan petir yang mulai menggerutu. Aku sudah mulai naik darah. Ini maksudnya apa sih? Baru byar, sudah prett lagi..

Dan yang paling menambah emosi adalah waktu PLN kembali padam jam 11 malam sampai jam setengah 3 subuh. Ini benar-benar gila!! Asha berulang kali terbangun dan menangis rewel karena gerah. Tentu saja gerah, AC tidak menyala, padahal jendela sudah dibuka. Tetap saja, malam itu terasa gerah. Ditambah lagi dia sering terkaget-kaget dengan suasana kamar yang jadi temaram. Memang kami punya ”emergency lamp”, tapi keburu padam sebelum listrik yang budiman byar. Akhirnya kami terpaksa menggunakan lilin. Tapi, Asha tidak terlalu terbiasa dengan suasana temaram seperti itu. Dia biasa tidur dengan lampu terang benderang. Bayangkan repotnya menjelaskan hal seperti ini pada anak umur dua tahun.

Sekali-sekali aku terpaksa memaksakan tanganku bergerak mengipasinya dengan majalah bekas, walaupun mata rasanya beraaat sekali. Akhirnya dia tertidur dan aku bisa beristirahat sebentar. Karena sesudahnya dia akan terbangun dan rewel lagi. Akhirnya listrik sialan itu menyala lagi jam setengah 3 subuh dan AC pun bisa bekerja lagi mengeringkan keringat yang sudah memenuhi jidat si Asha. Sambil mengantuk aku hanya bisa bersyukur sekaligus menggerutu panjang pendek.

Herannya, PLN bisa mempertahankan listrik agar tetap menyala sepanjang bulan Ramadhan lalu. Tapi begitu Lebaran usai, alasan major overhaul ini pun kembali digaungkan. Sama seperti waktu musim sepak bola piala dunia dulu, listrik juga adem-adem saja. Tapi begitu acaranya selesai, PLN kembali sibuk dengan overhaulnya. Mencurigakan.

Aku sempat membaca sebuah surat pembaca di majalah Tempo, yang dikirim oleh salah seorang yang juga merasa kesal dengan kebiasaan byar prett ini. Dia mengangkat wacana tentang kemungkinan dibukanya kesempatan bagi pihak swasta untuk mengelola listrik. Dan menurutku, ini wacana yang sangat menarik. Memang betul, keberadaan pesaing akan membuat pihak lain bekerja keras untuk memberikan pelayanan yang terbaik, kalau tidak mau konsumennya direbut oleh kompetitor. Kalau seandainya ada pihak swasta yang juga diizinkan mengelola pengaturan listrik, dan bisa menjamin tidak adanya pemadaman yang meresahkan dan merugikan warga, pasti akan dibanjiri konsumen. Meskipun mungkin harganya sedikit lebih mahal. Tapi aku yakin, warga tidak keberatan membayar sedikit lebih mahal, asalkan ada jaminan tidak adanya pemadaman listrik.

Persaingan seperti ini sebenarnya tidak akan merugikan PLN, karena sebagai badan milik negara, dia masih memiliki posisi tawar yang lebih besar dan tetap bisa menarik konsumen dengan harga yang lebih murah dari pihak swasta. Tapi PLN harus mencari cara agar harga yang lebih murah itu juga diimbangi dengan kualitas pelayanan yang memadai. Kalau harganya murah dan pelayanannya baik, PLN tidak perlu takut kehilangan pelanggan. Tapi kalau harganya murah dan bolak-balik overhaul, maka hampir bisa dipastikan, mayoritas pelanggannya akan melarikan diri. Apalagi kalau kondisi ini semakin parah dengan munculnya kemungkinan yang terakhir. Dimana tarif dinaikkan tapi tetap juga byar prett. Waaahhhh...pelan tapi pasti, PLN bisa mati berdiri.

Memang, segala yang menyangkut hajat hidup orang banyak, termasuk PAM dan PLN dikuasai oleh negara, untuk mencegah monopoli dari pasar. Tapi hukum ini tidak menghilangkan kewajiban negara untuk memberikan pelayanan yang terbaik bagi setiap warganya yang membutuhkan fasilitas itu. Kalau memang ternyata, keberadaan pihak swasta akan bisa menggenjot kinerja badan usaha milik negara, kenapa tidak dicoba?

Cara Tepat Membantu Pengemis

Permasalahan umum yang terjadi di kota-kota besar di Indonesia bisa dikatakan hampir sama. Kriminalitas, kebersihan dan gepeng (gelandangan dan pengemis). Khusus untuk yang terakhir ini, pemerintah sepertinya sudah kehabisan ide untuk menanganinya. Sampai-sampai ada daerah yang mengharamkam pengguna jalan memberi sumbangan kepada pengemis yang meminta-minta di pinggir jalan.

Medan juga punya permasalahan yang sama. Hampir di setiap persimpangan lampu merah, selalu ada pengemis dan pengamen jalanan. Kadang, aku sering kasihan melihat mereka.

Apalagi kalau ada anak-anak yang masih berumur 7-8 tahun, dengan pakaian kumal dan gitar kecil yang sudah hancur, bernyanyi seadanya di jendela mobil. Tapi rasa iba itu akan langsung hilang, begitu melihat dia bergabung dengan teman-temannya sesama pengamen, menghirup uap lem Goat di dalam sebuah plastik. Narkoba murahan. Kalau ternyata uang hasil ngamennya itu dipakai untuk fly, lebih baik tidak usah dikasih sedekah.

Kadang-kadang, ada juga pengemis ibu-ibu setengah baya yang sepertinya sedang menggendong bayinya dalam kain gendongan di dadanya, di tengah terik matahari. Sebenarnya, tujuan dia membawa anaknya itu juga perlu dipertanyakan kembali. Masak’ iya seorang ibu tega membawa anaknya yang masih bayi berjemur di tengah matahari siang.

Semiskin-miskinnya dia, pasti ada naluri untuk menjaga anaknya agar tidak sakit. Kalaupun harus mengemis, dia akan mencari tempat yang tidak terlalu ”menyiksa” anaknya. Jangan-jangan, anak itu dibawa hanya agar orang merasa kasihan dan memberi sedekah kepadanya. Dan ada yang lebih mengagetkan lagi. Ketika si ibu ini mendekat ke kaca mobil, maka kita akan bisa melihat kalau sebenarnya dia sedang menipu. Yang di gendongannya itu hanyalah buntalan-buntalan kain yang dibentuk-bentuknya sedemikian rupa. Sehingga terlihat seperti tubuh bayi yang sedang tertidur, dari kejauhan. Gila nggak?

Pengemis satu lagi adalah bapak-bapak yang juga berusia setengah baya. Yang ini, biasanya nongkrong di perempatan lampu merah pertama setelah keluar dari kompleks rumah kami. Badannya subur, penampilannya bersih dan wajahnya penuh senyum. Sama sekali tidak terlihat seperti orang yang sedang susah. Dari kejauhan dia sudah menyapa para pengemudi mobil dari tempat duduknya di tengah jalan. Sepertinya dia tidak bisa berjalan karena kakinya terlipat dan dikerubuni lalat. Tapi ternyata, ketika kami lewat dari sana sore hari menjelang magrib, dia dengan tenangnya jalan lenggang kangkung, tak kekurangan suatu apapun. Pakaian mengemisnya sudah terlipat di dalam bungkus plastik, dan dia berjalan pulang dengan pakaian bersih. Lho..lho..lho..

Untuk pengemis-pengemis yang seperti ini, memang layak terimbas perda seperti di Jakarta. Jangan dikasih sedekah. Mereka itu pengemis-pengemis malas yang memanfaatkan rasa iba orang lain. Sementara sebenarnya fisiknya masih kuat dan dia masih bisa mencari pekerjaan, tapi dia memilih untuk meminta-minta saja. Begitu juga anak-anak kecil yang mengemis agar bisa membeli ”lem Goat” untuk jadi narkoba. Atau ibu-ibu berbadan sehat yang menggendong buntalan kain kemana-mana, agar orang merasa kasihan dan memberi sedekah.

Hanya saja, rasa kasihan tetap akan muncul kalau melihat seorang bapak tua yang benar-benar lumpuh (karena kakinya memang buntung) tapi dengan semangat mendatangi mobil yang sedang berhenti di lampu merah, untuk meminta sedekah. Dia tidak duduk bermalas-malasan seperti pengemis yang pura-pura buntung. Tapi dia tetap berjalan dengan susah payah mendatangi mobil-mobil. Kalau yang seperti ini, kadang suka nggak tega. Dan akhirnya kami berikan lembaran uang yang tidak seberapa. Tapi dia sudah menyambutnya dengan gembira dan berulang-ulang mengatakan terimakasih. Kalau di Jakarta, mungkin kami sudah kena denda ya.

Mungkin sebaiknya kita memang menyalurkan bantuan untuk kawan-kawan kita yang kurang beruntung ini lewat lembaga resmi ya. Misalnya lewat badan zakat untuk yang muslim, atau yayasan milik gereja untuk kami yang kristen. Mudah-mudahan, lembaga-lembaga ini bisa menyalurkan sumbangan untuk orang-orang yang benar-benar membutuhkannya. Yang pasti bukan untuk pengemis penipu, atau pengemis yang hobi nyabu..

Ayo, Jadi Donor Darah

Apa yang bisa didapatkan dari kesediaan mendonorkan darah secara rutin? Ada yang tahu? Iya! Mendonorkan darah. Biasanya bisa dilakukan di Palang Merah Indonesia terdekat. Memangnya ada keuntungannya?

Ada. Dan keuntungan yang didapatkan lumayan besar.

Hari Minggu kemarin, aku menemani suamiku ke Unit Transfusi Darah Palang Merah Indonesia di Kampung Durian, Medan. Dia mau mengikuti jejak temannya yang sudah bertahun-tahun mendonorkan darah secara rutin ke PMI setiap enam bulan sekali. Dan tentu saja, PMI dengan senang hati akan menerimanya. Semakin banyak orang yang menyumbangkan darah dengan sukarela, tentunya akan semakin baik toh?

Temannya itu mengatakan kalau dia sudah secara rutin mendonorkan darah, karena dengan itu berarti tubuh kita melakukan pencucian darah secara alami dan hampir bebas resiko. Karena sesudah darah kita diambil, maka tubuh akan memproduksi darah baru lagi, yang lebih bersih tentunya. Sementara darah yang lama, akan diproses lagi dan diberikan ke orang-orang yang membutuhkannya. Untuk yang memiliki masalah obesitas, donor darah juga bisa dilakukan untuk mengurangi berat badan, asal dilakukan secara teratur. Ini bukan informasi kacangan lho. Teman suamiku itu mendapatkan informasi ini dari seorang dokter.

Dan ada temannya yang sudah mengalami penyakit asam urat, hanya dengan dua kali donor darah dalam setahun (per-enam bulan) saja, penyakitnya sudah mulai membaik. Apalagi yang ada masalah berat badan. Daripada menahan diri dalam makanan, apalagi sampai minum obat pelangsing yang berbahaya. Lebih baik jadi donor darah toh? Selain untuk menjaga kesehatan tubuh, juga sekaligus membantu orang lain yang membutuhkan darah. Dan semua itu bisa dikatakan tanpa resiko.

Inilah yang membuat suamiku bersemangat untuk mendonorkan darahnya. Biarpun sebenarnya dia sangat anti dengan jarum suntik. Tapi ternyata ada suatu hal yang sangat mengganjal di pikiran ketika mendatangi kantor PMI. Tempatnya kotooorrrrrrr sekali.....
Ini beberapa gambar yang kuambil disana, dengan menggunakan handphone.

Pintu masuknya terlihat kumuh dan berdebu tebal. Pintunya yang terbuat dari kaca, hanya ditutup dengan tirai renda yang sudah tidak ketahuan lagi warnanya, lengkap dengan robekan di bagian bawah. Ampun deh.

Di ruang tunggu, hanya ada tempat duduk dari marmer, untuk menunggu giliran. Dan tempat duduk ini juga kotornya bukan main. Di bagian bawahnya, debu dan sampah bertebaran, padahal kami datang kesana masih lumayan pagilah, sehabis sarapan. Tapi suasana tempat itu sudah kotor.

Lalu ada meja yang berfungsi untuk pemeriksaan awal. Karena sebelum mendonorkan darah, tentu saja ada pemeriksaan untuk menentukan apakah orang tersebut layak untuk mendonorkan darah, sekaligus mengecek golongan darah. Di meja ini, ada tempat kapas yang aku kurang yakin, steril atau tidak. Jarum untuk menusuk ujung jari memang disimpan di satu wadah, yang sudah terlihat buram. Lalu ada sebuah baskom kecil berisi cairan kimia tertentu yang keruh, tempat mencuci kaca preparat bekas mengecek darah. Dan yang pasti, meja ini berdebu dan tidak terlihat steril.

Dan inilah zona pasiennya. Bisa lihat sendiri atau harus dijelaskan lagi? Di meja dekil dan berdebu itulah dia mengurus kantong darah lengkap dengan jarumnya. Disamping alat pengukur tekanan darah itu adalah tempat kapas dan botol putih di sampingnya itu adalah tempat alkohol. Dan lihatlah keadaan di bagian bawah mejanya itu. Ya ampun, sampahnya berada di luar tempat sampah! Kelihatan nggak debunya? Sebenarnya, di lantai bawah tempat tidur itu banyak sekali bercak-bercak kehitaman. Aku nggak yakin sekali sih, tapi sepertinya itu bercak darah yang sudah lama. Dan tidak dibersihkan!

Dan saudara-saudara, inilah inti utama alias jiwa dari Unit Transfusi Darah PMI ini, alat untuk menghisap darah secara otomatis. Gambar ini kuambil dari dekat dan lihatlah kondisinya yang menyedihkan! Alat itu berdebu dan penuh kertas sampah!! Sebenarnya alatnya kecil kok dan membersihkannya pasti tidak repot. Tapi sepertinya, tugas itu masih dianggap terlalu berat untuk mereka yang bertugas menjaga tempat itu. Di lantai bawah, sepertinya bisa terlihat bercak darah lama yang kuceritakan tadi. Kelihatan nggak?

Tulisan ini bukan untuk mengejek PMI. Sungguh! Tapi menurutku, kualitas kebersihan di Unit Transfusi Darah itu seharusnya paling tidak menyamai kualitas kebersihan di klinik dokter dong. Karena mereka juga menggunakan alat-alat medis disana. Orang-orang datang kesana itu rentan terkena infeksi. Sedangkan tempat yang bersih sekalipun masih belum tentu bisa dianggap steril, apalagi yang kotor dan dekil seperti ini? Bagaimana orang bisa bersemangat datang untuk mendonorkan darah? Salah-salah malah nanti terkena penyakit lagi.

Fasilitas kesehatan seharusnya menjadi teladan bagi orang yang datang kesana. Keadaan tempat yang bersih, meskipun harus berbau karbol, adalah pendukung yang paling utama. Khususnya untuk alat-alat yang akan dipergunakan untuk kepentingan mendonor darah. Apalagi mesinnya itu. Adduuhhh...sampai sekarang, aku masih tidak habis pikir melihatnya. Kesannya jadi tidak steril dan sudah pasti tidak profesional. Menurutku, PMI harus segera berbenah diri, apalagi tugas mereka sangat mulia. Yaitu memastikan selalu tersedianya suplai darah untuk mereka-mereka yang membutuhkan. Dan kalau masalah kebersihan seperti ini tidak dibenahi dengan baik, bagaimana orang mau datang secara sukarela untuk mendonorkan darah?

Menantikan Pasar Tradisional Yang Bersih

Katanya, para pedagang kecil di pasar tradisional kita mulai merasa makin tergusur dengan kehadiran supermarket-supermarket besar yang notabene menjual produk yang sama dengan mereka. Para pedagang ini menuntut pemerintah agar lebih memperhatikan nasib pedangang-pedagang dengan modal pas-pasan seperti mereka. Bahkan ada beberapa LSM yang meminta pemerintah melarang masuknya ”pedagang-pedagang besar kelas dunia” ke Indonesia, mengikuti jejak Carrefour, Hypermart, Giant dan sejenisnya. Karena ”pedagang-pedagang besar” inilah yang telah ”merebut” mata pencaharian mereka. Hmm..coba kita analisa sejenak.

Memang kondisi pedagang-pedagang kecil sekarang makin susah. Banyak pasar-pasar tradisional tempat mereka berjualan tergusur. Tak jarang mereka sampai harus melarikan diri kesana-kemari, atau bahkan melawan aparat pamong praja yang berusaha menggusur mereka. Makna menggusur jadi diperhalus dengan istilah ”menertibkan”. Dengan alasan, mereka sudah diberi tempat lain untuk menjual dagangannya.

Tapi kebanyakan pedagang itu menolak untuk pindah ke tempat baru yang diberikan kepada mereka, karena mereka merasa tempat itu kurang strategis untuk berjualan. Banyak pembeli yang enggan untuk belanja kesana dengan berbagai alasan, biasanya karena tempat berjualannya kurang strategis. Sementara itu, ”pedagang-pedagang bermodal besar” itu mendapat tempat yang strategis di pusat kota, tempat mal-mal megah berdiri.

Kalau aku melihat hal ini dari sudut pandang seorang ibu rumah tangga, sepertinya aku lebih memilih untuk mengomentarinya dari segi perbedaan mendasar yang dimiliki kedua jenis pedagang ini saja daripada segi politik ataupun ekonominya. Karena hal paling penting yang menjadi dasar bagiku ketika memilih tempat untuk belanja kebutuhan sehari-hari adalah: KEBERSIHAN dan KEAMANAN tempat belanja itu sendiri.

Cukup sulit menemui pasar-pasar tradisional yang bersih dan aman di kota besar. Tak perlu melihat ke jauh-jauh tempat. Di Medan saja, pasar tradisionalnya bertaburan sampah, becek dan bau karena air cucian ikan, belum lagi harus ekstra waspada menjaga dompet agar tidak digondol copet. Aku yakin kalau ini adalah masalah terbesar yang dirasakan ibu-ibu ketika mempertimbangkan untuk belanja di pasar tradisional. Masalah harga? Perbedaan harga dagangan di pasar tradisional dengan pasar modern itu cuma beda sedikiiiittt.. Tidak sebanding dengan ”ketidak-nyamanan” yang harus dirasakan selama berbelanja.

Kalau berbelanja di pasar tradisional, yang pasti harus pintar tawar-menawar (sayangnya, aku kurang ahli dalam hal ini). Maka orang yang senang tawar-menawar sebelum berbelanja, pasti akan memilih pasar tradisional. Dengan alasan bahwa pasar modern sudah kehilangan ”jiwa” nya karena tidak ada proses tawar menawar. Tapi bagi orang yang kurang ahli dalam hal seperti itu, termasuk aku, harus hati-hati. Karena kalau tidak pintar menawar, maka harga jual yang diperoleh bisa lebih tinggi dari harga rata-rata. Jadi rugi toh?

Kemudian, kalau belanja di pasar tradisional, harus mempersiapkan alas kaki yang tepat. Jangan sembarang pakai sandal jepit, karena kalau alasnya licin, kita bisa tergelincir ketika melewati daerah becek yang dipenuhi air berbau got. Biasanya berasal dari pencucian ikan atau daging atau bahkan seafood. Lebih baik kalau pakai sepatu bot karet setinggi lutut, jadi akan aman dari percikan-percikan lumpur ini. Bagi mereka yang tidak suka pakai sepatu bot, bersiap-siaplah karena kaki akan dipenuhi cipratan lumpur bau dan terasa gatal

Hal yang lain adalah bersiap-siaplah menahan napas ketika melewati tumpukan sampah bau yang dikerubungi lalat hijau yang besar. Sampah-sampah ini biasanya adalah dagangan yang sudah tidak bagus kondisinya alias sudah busuk. Karena sudah tidak bisa dijual lagi, mau tidak mau ya harus dibuang. Dibuangnya juga di sembarangan tempat. Yang penting posisinya jauh dari lokasi berjualannya. Tidak perduli kalau tumpukan sampah itu akan mengeluarkan bau busuk dan memancing lalat hijau besar itu membawa serta gerombolannya. Sehabis mengerumuni sampah, lalat-lalat itu akan terbang lagi ke tumpukan ikan, udang, sayur, atau bahkan penganan-penganan kecil yang dijual pedagang-pedagang makanan di pasar. Mau?

Yang terakhir dan yang paling utama adalah, beredarnya copet-copet tak bertanggung jawab yang mengincar ibu-ibu yang sedang lengah. Kalau mendengar ada orang yang berteriak-teriak: ”Copet! Copet!” di tengah pasar tradisional, hampir biasa dianggap sebagai kejadian yang biasa. Gimana bisa belanja dengan tenang kalau sudah khawatir duluan?

Berbeda dengan pasar modern. Disana tidak ada lumpur yang berbau busuk dan membuat kaki jadi gatal. Tidak ada tumpukan sampah berbau busuk yang dikerubungi lalat-lalat hujau besar, sehingga secara otomatis dagangan yang dijual pun akan lebih higienis. Dan di pasar modern, hampir tidak ada copet. Ibu-ibu bisa memilih belanjaan dengan tenang, tanpa harus takut ada yang sedang mengincar-incar dompetnya.

Mungkin, pasar tradisional belum mampu meniru semua kenyamanan yang ditawarkan oleh pasar modern, seperti AC dan penerangan yang sangat memadai. Tapi pasar tradisional masih bisa meniru kebersihan tempat belanja yang ditawarkan oleh pasar modern. Jangan membuang sampah dagangan dengan sembarangan sampai berbau busuk. Jangan membuang air cucian sembarangan sampai menggenang dan jadi lumpur. Jangan menipu pembeli dengan memberikan harga yang terlalu mahal. Dan pengaturan lokasi pedagang di pasar tradisional harusnya diatur sedemikian rupa, sehingga pembeli belanja dalam suasana yang lega dan tempat berjalan yang longgar. Karena biasanya copet beraksi di tengah-tengah kerumunan orang berbelanja yang sedang berdesak-desakan di antara pedagang yang letaknya tak beraturan.

Sudah ada contoh pasar yang terjaga kebersihannya. Tapi masih banyak yang belum juga melaksanakannya. Jadi, jangan hanya bisa menyalahkan keberadaan pasar modern saja. Modernisasi tidak bisa dicegah apalagi dihalangi. Sama halnya dengan masuknya ”pedagang-pedagang bermodal besar” ke negeri kita ini. Karena pemerintah juga menarik keuntungan dari investasi mereka di Indonesia.

Kalau pasar tradisional tidak segera berbenah diri, maka sudah pasti mereka akan semakin tergusur dan kehilangan pelanggannya. Karena sekarang saja, banyak pedagang tradisional yang mengeluhkan berkurangnya pendapatan mereka, karena jumlah pembeli sudah semakin sedikit. Jadi, tunggu apa lagi? Berbenahlah..