Alive (Survivor From Andes)

Ini adalah film yang berhasil membuatku tetap nempel di sofa dan rela memundurkan jam memasakku. Akibatnya, waktu untuk bersapa dengan laptop tercinta pun mundur juga. Tapi tidak apalah. Film ini memang bagus dan layak untuk ditonton. Diangkat dari kisah nyata tentang peristiwa kecelakaan pesawat Uruguayan Air Force Flight 571 yang terjatuh di Pegunungan Andes pada tanggal 13 Oktober 1972. Pesawat ini mengangkut tim rugby Uruguay beserta teman-teman dan keluarganya yang merupakan lulusan dari Universitas Stella Maris. Total penumpang adalah 45 orang dan hanya 16 orang diantara mereka yang selamat.


Aku tidak menggunakan nama-nama pemain disini ataupun nama tokoh, karena jalan cerita yang hebat-lah yang menjadi titik perhatian utamaku. Karena bisa dikatakan, tidak ada yang mendapat posisi paling penting disini. Semua orang adalah pemeran utama dalam film yang menunjukkan usaha manusia menaklukkan alam agar bisa menyelamatkan dirinya. Juga menunjukkan bagaimana manusia sendiri sebenarnya hanya secuil debu di alam ini. Bagaimana dalam penderitaan terhebat di alam luas itu, seorang atheis fanatik sekalipun bisa berubah dan mengakui keberadaan Tuhan Yang Maha Esa. Orang-orang yang tidak pernah berdoa berbalik dan berdoa dengan sepenuh hati dan bercucuran air mata, berharap agar mereka bisa selamat dari keganasan alam itu.

Cerita berawal ketika pesawat itu terjatuh, penumpang yang selamat kemudian berusaha menolong penumpang lain yang terluka, meski ada beberapa penumpang yang sudah tewas. Mereka yang terluka kemudian mendapat perawatan seadanya semampu mereka, sementara yang tewas dikeluarkan dari badan pesawat dan dibaringkan di salju tebal di luar.

Ada seorang penumpang selamata yang merupakan mahasiswa kedokteran, yang mengambil tugas untuk membantu pengobatan para korban yang terluka. Sementara yang lainnya membantu mengeluarkan korban-korban lain yang masih terjepit diantara kursi-kursi penumpang. Malam itu mereka bertahan di dalam pesawat karena ada badai salju hebat yang melanda pegunungan Andes. Dan badai salju itu pun menewaskan beberapa orang lagi malam itu.

Seluruh penumpang yang tertinggal kemudian membongkar barang-barang di dalam pesawat untuk mencari sesuatu yang bisa dimakan. Mereka menemukan sebungkus biskuit, beberapa batang coklat, dan dua botol anggur. Fernando bertindak sebagai pemimpin, dan memutuskan kalau mereka akan menghemat jatah makanan itu, sampai bantuan datang menyelamatkan mereka. Sehingga mereka hanya makan sepotong kecil coklat dan setengah tutup botol anggur untuk bertahan hidup.

Pada malam hari, mereka tidur di dalam badan pesawat yang sudah hancur. Menutupi jendela-jendelanya yang terbuka dengan kain-kain dan tumpukan tas untuk menahan hembusan angin yang dingin menusuk. Sambil berharap datangnya bala bantuan atau setidaknya melihat pesawat yang akan melintasi daerah itu.

Keesokan harinya, mereka melihat sebuah pesawat kecil terbang melintasi tempat itu. Mereka segera berkerumun keluar dan melambaikan tangan. Pesawat itu berputar-putar beberapa kali, dan Fernando yakin kalau pilot pesawat itu sudah melihat mereka, dan akan kembali untuk membawa bantuan. Mereka begitu bersuka cita. Dan dengan percaya diri mereka menghabiskan stok makanan mereka yang tersisa semuanya pada malam itu. Karena yakin kalau besok akan ada helikopter yang datang menjemput dan menyelamatkan mereka.

Tapi kenyataan berkata lain. Ternyata pesawat itu tidak melihat mereka dan karena itu tidak pernah kembali untuk menyelamatkan mereka. Maka penderitaan mereka pun semakin bertambah karena jatah makanan mereka sudah habis. Akhirnya beberapa orang memutuskan untuk mencari bagian ekor pesawat. Di sana ada aki yang bisa mereka pergunakan untuk menghidupkan kembali radio pesawat dan memanggil bantuan. Masalahnya, mereka tidak yakin dimana letak pasti dari bagian ekor pesawat yang patah itu. Dan mereka sama sekali buta dengan daerah pegunungan dengan salju setinggi perut itu.

Akhirnya diputuskan, bahwa tiga orang akan berangkat untuk mencari lokasi ekor pesawat itu dan membawa aki tersebut ke badan pesawat. Tapi ternyata perjalanan itu sangat berbahaya. Pada siang hari, Pegunungan Andes memang mendapat sinar matahari, sehingga mereka tidak terlalu merasa kedinginan. Tapi di malam hari, tanpa perlindungan yang memadai, manusia akan tewas karena membeku.

Tim yang berangkat ini tidak membawa perlengkapan apapun. Mereka hanya berbekal sweater tipis dan sepatu sneaker. Ditambah lagi perut kelaparan karena sudah dua hari tidak makan. Mereka terduduk membeku kedinginan ketika malam tiba. Untungnya mereka berhasil selamat hingga muncul matahari pagi. Karena itu mereka memutuskan untuk kembali saja, meskipun tanpa hasil.

Kegagalan tim pertama kemudian berusaha diperbaiki kembali. Mereka memutuskan untuk menunggu hingga cuaca benar-benar bersahabat dan tidak ada badai salju. Mereka akan menambah jumlah pakaian agar lebih hangat. Tapi masalah yang masih belum ada penyelesaiannya adalah: bagaimana mengatasi rasa lapar. Karena tanpa makanan, mereka akan menjadi lemah dan tewas karena kedinginan.

Akhirnya, memberikan sebuah usul yang sangat mengejutkan mereka. Bahwa untuk bertahan hidup di cuaca yang ekstrim itu, mereka harus makan banyak daging. Karena daging adalah sumber kalori yang paling besar. Dan karena tidak ada hewan yang bisa diburu di sekitar itu, maka mereka harus memakan mayat-mayat korban yang terbaring di luar.

Pada awalnya, hampir semua menolak usul itu. Tapi perlahan-lahan, dengan memahami situasi yang mereka alami, akhirnya mereka menyadari kalau mereka tidak punya pilihan lain. Yang pertama kali mengiris daging dari mayat itu adalah Fernando dengan menggunakan pecahan kaca jendela pesawat. Adegan itu menunjukkan bagaimana dengan susah payah ia memasukkan potongan daging yang dicungkilnya dari bagian pinggang salah satu mayat itu ke dalam mulutnya. Berusaha mati-matian melawan rasa ingin muntah dan menelannya dengan bantuan segenggam salju yang dimasukkan dengan terburu-buru ke dalam mulutnya.

Setelah itu, barulah kawan-kawannya yang lain menirunya. Suhu yang membeku telah berfungsi sebagai lemari es raksasa. Mayat-mayat itu tidak membusuk tapi membeku seperti disimpan di dalam freezer dan tetap segar. Mereka berhasil bertahan hidup selama 70 hari di pegunungan es itu karena tetap memiliki tenaga dari memakan daging mayat.

Setelah masalah perut teratasi, mereka kemudian kembali mengirimkan regu yang baru untuk mencari ekor pesawat. Mereka memperlengkapi tim yang baru ini dengan pakaian tebal, sepatu bot dan sekantung daging manusia untuk penambah tenaga di perjalanan. Kali ini tim kedua berhasil menemukan letak ekor pesawat sekaligus menemukan aki yang mereka cari-cari. Tapi ternyata aki itu sangat berat sehingga mereka tidak mungkin membawanya turun kembali. Mereka kemudian memutuskan untuk membawa orang yang mengetahui cara memperbaiki radio ke tempat aki itu berada.

Malangnya, ternyata mereka tidak berhasil memperbaiki radio itu. Tapi mereka menemukan sejumlah kain berlapis penahan panas yang bisa dipergunakan sebagai kantung tidur. Mereka kemudian membawa kembali barang-barang yang bisa dipergunakan ke tempat mereka. Seperti baju-baju tambahan untuk penghangat. Sementara itu jumlah mereka semakin berkurang, karena setiap hari selalu ada yang tewas karena tidak tahan dengan suhu udara yang sangat dingin itu.

Akhirnya mereka memutuskan untuk mencari sendiri bantuan, karena kalau tetap diam dan menunggu disana, mereka juga pasti akan tewas. Tim ketiga akhirnya berangkat lagi untuk mendaki. Kali ini dengan tujuan untuk mencari daerah pemukiman penduduk sejauh mereka bisa berjalan kaki. Dari sana mereka akan mencari bantuan untuk menjemput kawan-kawan mereka yang tersisa. Mereka kembali setelah memperlengkapi diri dengan jatah daging, kantung tidur yang bisa menahan panas dan sepatu yang lebih kuat karena dililit dengan tali.

Dari awal memang sudah bisa dipastikan kalau perjalanan ini tidak akan mudah. Mereka hanya berbekal keyakinan kalau Chile berada di arah Barat, tapi tidak tahu akan sejauh apa perjalanannya. Bahkan di tengah perjalanan pun mereka hampir tergelincir ke jurang. Ditunjukkan kalau cukup banyak hari yang terlewati ketika akhirnya mereka menemukan sebuah lembah. Puncak pegunungan es itu akhirnya terlalui juga. Dan mereka kembali dengan membawa bantuan helikopter untuk menjemput teman-temannya yang masih menunggu di pegunungan.

Akhir film yang mengharukan. Ketika semua orang yang sudah putus asa menunggu dalam diam di bangkai pesawat, mereka mendengar suara helikopter yang mendekat, kemudian buru-buru berlari ke luar untuk melihat. Dan terlihatlah ketiga orang teman mereka yang dengan berani telah melintasi dan menaklukkan puncak gunung es itu dengan peralatan seadanya, melambaikan tangan dari atas helikopter. Semua tertawa sambil menangis dan melambaikan tangan.

Kisah ini dituliskan oleh salah seorang korban yang selamat, kemudian diproduksi dalam bentuk film pada tahun 1993. Dan didedikasikan untuk mengenang ke-29 penumpang lain yang telah tewas di Pegunungan Andes itu. Beberapa pemerannya antara lain Ethan Hawke, Vincent Spano dan Josh Hamilton. Beberapa tahun kemudian, para penumpang yang selamat kembali ke lokasi jatuhnya pesawat dan mendirikan salib raksasa dari besi di puncak bukit itu, sebagai monumen untuk sahabat, adik dan sanak-keluarga mereka yang tewas. Salib itu begitu besar sehingga terlihat dari puncak gunung yang lain. Film yang luar biasa...

PS: Untuk kawan-kawan yang menyukai artikel-ku tentang film, selanjutnya aku akan memindahkah tulisan tentang film ke blog khusus: Cerita Film. Tapi artikel yang masih ada disini masih tetap akan disimpan, hanya saja tidak akan bertambah lagi. Karena untuk selanjutnya, artikel tentang film akan kutuliskan di blog film itu saja. Terimakasih

X-Men Origins-Wolverine

James Logan (diperankan oleh Hugh Jackman) adalah tokoh utama dari film ini. Sewaktu masih anak-anak, dia sudah merasakan keanehan dalam dirinya. Bahwa ia bisa mengeluarkan tiga bilah tulang tajam dari punggung telapak tangannya. Saudaranya, Victor (diperankan oleh Liev Schreiber), juga mengalami masalah yang sama. Hanya saja, Victor tidak mengeluarkan tiga bilah tulang tajam dari punggung telapak tangannya. Tapi dia memiliki kuku yang bisa tumbuh memanjang selama beberapa sentimeter. Namun mereka memiliki kesamaan kemampuan untuk menyembuhkan diri sendiri dan tidak bisa mati.


Pada masa PD II, James dan Victor bersama-sama terlibat dalam perang. Kemampuan untuk segera pulih dari luka telah membuat mereka selamat dalam setiap pertempuran. Namun ada perbedaan sikap diantara mereka. Victor cenderung menjadi ganas dan pemarah, sementara James mengambil peran seperti penjaga baginya. Agar dia tidak membunuhi semua orang yang dianggapnya membuatnya kesal.

Dan sifat pemarah Victor itu pulalah yang membawa mereka berdua ke hadapan regu tembak untuk dihukum mati. Karena Victor telah membunuh seorang perwira yang berpangkat lebih tinggi darinya, hanya karena perwira itu mencegahnya memperkosa seorang gadis Vietnam. Tapi hukuman tembak tidak membuat mereka tewas.

William Stryker (diperankan oleh Danny Huston) melihat kelebihan mereka berdua, lalu menawarkan kesempatan untuk bergabung dengan Tim X yang dibentuknya. Tim ini berisikan orang-orang yang memiliki kemampuan khusus seperti mereka. Keseluruhan mereka adalah mutant yang memang sudah mengalami perubahan genetik dalam tubuh mereka, seperti halnya James dan Victor.

Para mutant itu adalah Fred Dukes (diperankan oleh Kevin Duran) yang sangat kuat dan tak terkalahkan. Lalu ada John Wraith (diperankan oleh Will I Am) yang bisa ber-teleportasi. Chris Bradley (diperankan oleh Dominic Monaghan) yang bisa menguasai medan listrik. Agen Zero (diperankan oleh Daniel Henney) sebagai seorang penembak jitu yang sangat ahli. Dan Wade Wilson (diperankan oleh Ryan Reynold) yang sangat ahli bermain pedang tapi juga sangat suka berbicara.

Keseluruh anggota tim ini kemudian dibawa oleh Stryker untuk mencari sebuat meteor yang jatuh di Nigeria. Dan Tim X kemudian mulai menyiksa penduduk setempat untuk memberitahu dimana letak jatuhnya meteor itu. James tidak suka dengan kecenderungan tim itu untuk membunuh dan memilih untuk keluar dari Tim X dan pergi ke daerah pegunungan untuk menyembunyikan diri.

Disana dia bekerja sebagai penebang kayu dan tinggal bersama kekasihnya yang cantik, Kayla Silverfox (diperankan oleh Lynn Collins). Tanpa disadarinya, Victor mulai memburu mantan anggota tim X satu-persatu. Stryker yang mengetahui hal ini segera melacak keberadaan James untuk menawarkan perlindungan. Tapi James menolak, dengan alasan dia bisa menjaga dirinya sendiri. Stryker sangat marah. Tapi ia tidak kehilangan akal. Ia berbalik mengajak Victor untuk bergabung dan ia berjanji akan membantunya untuk membunuh James. Kemudian Victor berhasil melacak keberadaan Kayla dan sudah terbaring bersimbah darah ketika James menemukannya.

James yang dibakar amarah, bertekad untuk membalas dendam kepada abangnya itu. Dan bersedia menerima tawaran Stryker untuk mengikuti proses mutanisasi, berupa penyuntikan adamantium ke seluruh susunan tulang di tubuhnya. Adamantium ini adalah zat yang terkandung dalam meteor yang mereka temukan di Nigeria. Dan zat itu mampu membuatnya menjadi sangat kuat dan tulangnya sekeras baja.

Tanpa disadari, Stryker ternyata memiliki niat tersembunyi. Sebenarnya dia ingin menjadikan James menjadi seperti tentara yang kebal senjata dan bisa dipergunakan untuk kebutuhan perang. Untuk itu dia perlu menghapus ingatan James agar dia melupakan niatnya untuk membalas dendam dan bergabung kembali dengan Stryker. James mendengar pembicaraan ini dan memberontak tepat sebelum proses penghapusan ingatan itu dilakukan. Dia berhasil melarikan diri. Stryker kemudian mengutus Agen Zero untuk memburunya dan memenggal kepalanya. Karena James telah berubah menjadi lawan yang tak terkalahkan. Karena senjata yang keluar dari punggung telapak tangannya bukanlah tiga bilah tulang lagi, melainkan tiga bilah pedang yang sangat tajam dan kuat. Adamantium telah mengubah struktur tulangnya menjadi seperti baja.

Dalam pelariannya, James masuk ke rumah pasangan manula yang tinggal berdua di sebuah rumah pertanian, Travis (diperankan oleh Max Cullen) dan istrinya Heather (diperankan oleh Julia Blake). Pasangan itu menerima James di rumah mereka. Memberinya makanan, pakaian dan bahkan sepeda motor milik mendiang anak mereka. Malangnya, mereka tewas karena ditembak Agen Zero. Dan James pun membunuh Zero karena itu, kemudian memutuskan untuk kembali mencari Stryker untuk membalas dendam.

Dalam pencariannya untuk menemukan laboratorium Stryker, James bertemu dengan Remy LeBeau yang biasa dipanggil Gambit (diperankan oleh Taylor Kitsch), salah seorang mutant yang berhasil melarikan diri dari laboratorium Stryker. Gambit kemudian membantu James untuk menemukan lokasi laboratorium itu. Ketika ia berhasil menemukan laboratorium itu, James menyadari kalau ternyata kekasihnya, Kayla, masih hidup. Ia telah memalsukan kematiannya untuk mengecoh James

Kayla sendiri ternyata adalah mutant juga. Kemampuannya adalah menghipnotis orang melalui sentuhan. James sangat terluka karena penghianatan Kayla. Tapi Kayla berusaha menjelaskan kalau ia terpaksa membantu Stryker untuk melacak keberadaan para mutant yang lainnya. Karena kalau tidak, Stryker akan membunuh adik perempuannya, Emma (diperankan oleh Tahyna Tozzi) yang ternyata adalah seorang mutant juga dan dikurung di laboratorium itu. Tapi James tidak perduli dan melangkah untuk pergi dari laboratorium itu.

Victor yang mengintip pembicaraan itu merasa marah, karena dia menganggap Stryker telah menghianatinya dengan membiarkan James pergi. Ia memaksa agar disuntuk adamantium juga, tapi Stryker menolak, dengan alasan Victor tidak akan selamat dalam proses itu. Victor sangat marah dan berniat membunuh Kayla karenanya. James mendengar jeritan Kayla dan berbalik masuk ke laboratorium dan berhadapan dengan Victor. Dan meski ia berkesempatan untuk membunuh Victor tapi ia tidak mau terbawa emosi. Hingga hanya membuat abangnya itu tidak sadarkan diri dan tetap membiarkannya hidup.

Bersama dengan Kayla ia kemudian melepaskan seluruh tawanan-tawanan yang ada di laboratorium Stryker. Seluruh mutant-mutant itu masih remaja. Dan ternyata mereka inilah yang nantinya menjadi para mutant di The X Man. Karena pada akhir cerita ditunjukkan kalau para mutant muda ini kemudian diselamatkan oleh Charles Xavier (diperankan oleh Patrick Stewart) yang membuka sekolah pelatihan untuk mutant di film The X Men

Panik melihat kejadian ini, Stryker melepaskan mutant terakhir yang diciptakannya. Dinamakan dengan senjata ke-11 untuk menghabisi James. Senjata ke-11 ini tak lain adalah Wade Wilson mantan rekannya di Tim X dulu yang sangat ahli bermain pedang. Tapi Stryker telah mengubahnya. Wade juga telah mendapat suntikan adamantium dan bisa mengeluarkan pedang dari punggung telapak tangannya. Tapi bukan pedang bermata tiga seperti milik James, hanya pedang bermata satu saja.

Wade juga telah mendapat kemampuan tambahan dari mutant-mutant yang sudah ditangkap Stryker sebelumnya. Seperti kemampuan mengeluarkan api dari mata milik Scott, teleportasi milik Wraith dan kemampuan untuk menyembuhkan diri sendiri dari James. Dan Wade hampir berhasil mengalahkan James ketika Victor muncul dan membantunya. Berdua mereka berhasil menyingkirkan senjata ke-11 dan menghancurkan laboratorium Stryker itu.

Gambit datang dan membantu James. Mereka sudah akan pergi meninggalkan tempat itu sambil membawa Kayla yang terluka. Tapi tiba-tiba Stryker muncul dan menembak James dengan peluru adamantium. Lalu sebuah peluru lagi ditembakkan ke kepalanya. James pun tidak sadarkan diri. Kemudian Stryker melangkah ke tempat Kayla terbaring dan berniat untuk membunuhnya juga. Tapi ia berdiri terlalu dekat, sehingga Kayla berhasil menyentuhnya dan menghipnotisnya.

Kayla tidak membunuhnya, tapi menyuruhnya berjalan tanpa henti bahkan kalau kakinya berdarah, ia harus tetap berjalan. Sampai akhirnya ia tewas karena luka-lukanya itu. Maka Stryker mulai berjalan meninggalkan lokasi itu dengan tatapan mata kosong. Dan Kayla kemudian meninggal. Ternyata peluru adamantium pun tidak berhasil membunuh James ia kemudian tersadar kembali tapi kehilangan seluruh ingatannya. Tepat seperti yang sudah diperkirakan Stryker

PS: Untuk kawan-kawan yang menyukai artikel-ku tentang film, selanjutnya aku akan memindahkah tulisan tentang film ke blog khusus: Cerita Film. Tapi artikel yang masih ada disini masih tetap akan disimpan, hanya saja tidak akan bertambah lagi. Karena untuk selanjutnya, artikel tentang film akan kutuliskan di blog film itu saja. Terimakasih

The Night At The Museum 2

Aku penggemar berat film The Night At The Museum. Begitu menonton sekuel pertamanya yang lucu itu, aku langsung yakin kalau versi keduanya juga pasti akan lucu. Pemeran utama masih tetap Ben Stiller. Para penghuni museum lainnya juga masih tetap muncul.

Awalnya aku agak ragu, apa yang akan membuat The Night At The Museum yang berjudul Battle Of The Smithsonian ini berbeda dari yang pertama ya? Kalau cuma meniru yang pertama, pasti kurang greget. Tapi ternyata, para pemeran dalam film ini memang mengalami penambahan. Dengan kualitas kelucuan yang juga mengalami peningkatan. Ini aku tuliskan disini ya.



Pada The Night At The Museum kedua ini, dikisahkan kalau Larry Daley(diperankan oleh Ben Stiller) ternyata sudah tidak bekerja sebagai penjaga malam lagi di museum dan sekarang sudah memiliki perusahaan sendiri dan menjadi pengusaha.

Suatu ketika dia memutuskan untuk mengujungi museum itu kembali dan melihat kondisi teman-temannya. Tapi dia sangat terkejut, karena museum itu sedang melaksanakan sebuah perubahan besar-besaran. Dr. McPhee (diperankan oleh Ricky Gervais memutuskan untuk mengganti patung-patung lilin tersebut dengan efek tiga dimensi yang lebih canggih lagi.

Dalam metode tiga dimensi ini, para penghuni museum diganti menjadi seperti cahaya saja, namun dapat berbicara dan memperkenalkan dirinya seperti layaknya orang yang berbicara. Hanya saja wujud mereka hanya berupa cahaya tiga dimensi, jadi tidak bisa disentuh. Karena itu pulalah para boneka lilin pun disingkirkan dan akan disimpan di ruang bawah tanah. Karena sudah dianggap tidak diperlukan lagi.

Hampir seluruh penghuni lama akan disingkirkan, kecuali Theodore Roosevelt (yang diperankan oleh Robin Williams beserta kudanya dan Ahkmenrah (diperankan oleh Rami Malek) si firaun Mesir pemilik tabulet ajaib yang selama ini telah membuat seisi museum itu hidup. Oh ya, tak lupa juga si patung dinosaurus menyeramkan yang bertingkah seperti anjing jinak juga ternyata tidak dipindahkan karena berukuran terlalu besar. Dan karena tabulet itu juga akan tetap tinggal di museum, maka penghuni museum yang dipindahkan tidak akan bisa hidup lagi, termasuk juga Sacajawea (yang diperankan oleh Mizuo Peck).

Semua patung lilin lainnya akan dipindahkan ke tempat bernama Smithsonian dan berkumpul dengan penghuni museum yang baru. Museum ini lebih luas dan lebih canggih. Tanpa sepengetahuan mereka, si monyet langka yang nakal berhasil mencuri tabulet ajaib itu dan membawanya ke Smithsonian. Akibatnya, semua penghuni Smithsonian juga menjadi hidup di tengah malam.


Malangnya, di dalam museum baru ini, tinggallah Kahmunrah (yang diperankan oleh Hank Azaria), saudara dari Ahkmenrah yang sangat dibencinya. Kahmunrah memiliki sifat yang jahat. Begitu mengetahui kalau tabulet itu bisa membuatnya hidup, Kahmunrah berniat menguasai benda itu, untuk memastikan dirinya bisa tetap hidup dan berniat untuk menguasai dunia modern.

Larry datang ke Smithsonian dengan niat untuk membantu rekan-rekannya dari penindasan Kahmunrah yang jahat. Di museum ini juga ia bertemu dengan Amelia Earhart (diperankan oleh Amy Adams), pilot wanita pertama. Amelia kemudian membantu Larry untuk menyelamatkan teman-teman lilinnya yang lain.


Disinilah berbagai kelucuan khas The Night At The Museum dimulai. Karena penghuni Smithsonian sangat banyak, maka tokoh yang muncul pun bertambah. Misalnya, ketika Larry dan Amelia berciuman di dekat air mancur yang berhiaskan tiga patung cupid, maka cupid-cupid itu pun bernyanyi, seperti khasnya ketika ada orang yang sedang memadu cinta. Dan lagu yang dinyanyikan adalah: More Than A Woman dari Beegees.

Lalu ketika Kahmunrah mengajak serta para penjahat dunia yang lain seperti Al Capone (diperankan oleh Jon Bernthal), Ivan si Tsar Rusia (diperankan oleh Christopher Guest) dan Napoleon Bonaparte (diperankan oleh Alain Chabat) untuk bekerja sama dengannya, situasi jadi bertambah lucu. Karena keempat tokoh itu berasal dari zaman dan latar belakang yang sama sekali berbeda. Namun karena memang dasarnya semuanya merupakan penguasa-penguasa tiran, mereka bisa bekerja sama dengan baik.

Maka kejar-kejaran pun dimulai. Larry dipaksa untuk memberitahukan kode untuk mengaktifkan tabulet itu, atau temannya Jedediah Smith (diperankan oleh Owen Wilson) akan tewas. Karena Kahmenrah telah mengurungnya dalam sebuah jam pasir. Kalau Larry tidak segera menemukan kodenya, maka Jedediah akan tewas terkubur dalam pasir jam itu.

Amelia pun membantunya untuk mencari-cari siapa yang mungkin tahu tentang kode itu. Akhirnya mereka berhasil menemui Albert Einstein (suaranya diperankan oleh Eugene Levy) yang kemudian memberitahukan kode tabulet itu. Kahmenrah akhirnya berhasil menggunakan tabulet itu untuk membuka gerbang kematian dan memanggil prajurit-prajurit kuno-nya yang sama jahat dengan dirinya.

Prajurit-prajurit kuno ini berbentuk manusia namun berkepala burung. Dan Kahmenrah sudah bersiap-siap untuk membawa pasukannya keluar, ketika Octavius (diperankan oleh Steve Coogan) si miniatur panglima Romawi berhasil mencegahnya dengan membawa patung raksasa Abraham Lincoln (diperankan oleh Hank Azaria juga) dan berhasil menakut-nakuti pasukan burung itu. Mereka memilih untuk masuk kembali ke gerbang kematian dan buru-buru menutup pintunya.

Hal ini menimbulkan kemarahan dari Kahmerah maka perang pun pecah. Namun Larry mendapat bantuan dari kawan-kawannya, karena ternyata Amelia berhasil membebaskan mereka dari kurungan yang dibuat oleh Kahmenrah. Dalam perang itulah mereka berhasil menjebak Kahmenrah agar masuk ke gerbang kematian juga, lalu mengunci pintunya dengan tabulet itu untuk selamanya.

Larry akhirnya menyadari kalau pekerjaan sebagai penjaga malam museumlah yang sebenarnya disukainya. Maka, diam-diam ia menjual perusahaan besarnya itu kemudian menyumbangkan hasilnya untuk museum, agar museum itu bisa kembali beroperasi seperti semula, lengkap dengan patung-patung lilinnya.

Dan uniknya, Larry mendapat ide untuk memanfaatkan hidupnya penghuni-penghuni museum itu di waktu malam, sebagai daya tarik untuk memancing pengunjung. Ia mengusulkan agar museum memperpanjang waktu tutupnya sampai tengah malam, sehingga pengunjung bisa berinteraksi dengan para penghuni museum yang hidup itu. Tapi pengunjung tidak benar-benar menyadari keadaan aneh itu, karena Larry mengatakan kalau penghuni museum itu terlihat hidup karena rekayasa teknologi belaka. Sementara itu ia memastikan agar seluruh penghuni museum tidak membocorkan rahasia mereka juga.

Pengunjung yang datang di waktu malam, bisa melihat fosil dinosaurus raksasa yang bergoyang-goyang. Namun ia selalu mengejutkan para pengunjung yang menganggapnya hanya mainan. Lalu Ahkmenrah menjelaskan tentang sejarah Mesir kuno kepada sekelompok murid. Attila the Hun (diperankan oleh Patrick Gallagher) menceritakan tentang sejarah Mongol kepada anak-anak. Dan Thodore Roosevelt berkuda dengan bebas di sekeliling museum sambil memperkenalkan dirinya sebagai mantan presiden Amerika. Sejak saat itulah The Night At The Museum tidak lagi menjadi rahasia Larry saja. Karena ia berhasil membuat masyarakat bisa menikmati keajaiban itu, tanpa harus membuka rahasia yang sebenarnya.

Dr. McPhee sangat gembira melihat kemajuan museum itu. Dia bersyukur kalau ada orang kaya yang diam-diam menyumbangkan uangnya untuk membangun museum itu, tanpa menyadari kalau orang kaya itu adalah Larry sendiri. Namun ia sangat senang karena Larry kembali bekerja sebagai penjaga malam. Karena menurutnya, tak ada yang mampu membuat museum itu menjadi lebih baik kecuali Larry sendiri.

Ini adalah alur utama ceritanya. Aku tidak bisa menulis semua adegan lucu yang ada di film ini. Karena adegan-adegan itu akan terlihat lucu kalau ditonton, bukan diceritakan.


PS: Untuk kawan-kawan yang menyukai artikel-ku tentang film, selanjutnya aku akan memindahkah tulisan tentang film ke blog khusus: Cerita Film. Tapi artikel yang masih ada disini masih tetap akan disimpan, hanya saja tidak akan bertambah lagi. Karena untuk selanjutnya, artikel tentang film akan kutuliskan di blog film itu saja. Terimakasih

The Phantom of The Opera

Aku tahu kalau The Phantom of The Opera sudah dirilis beberapa kali. Tapi yang mau kutuliskan kali ini adalah resensi dari versi yang jadul yaitu tahun 1989. Waktu efek visual masih belum secanggih sekarang ini. Tapi filmnya menarik. Tentu saja menarik menurutku, kalau tidak, buat apa aku repot-repot menuliskan resensinya di blogku kan?
Bagian awal film ini menggambarkan tentang usaha dua orang gadis muda dalam mengejar impian mereka untuk bisa menjadi pemain opera di kota New York. Pemeran utama adalah Christine Day (diperankan oleh Jill Schoelen). Ia berencana untuk mengikuti sebuah casting yang akan dilakukan di sebuah gedung opera. Dia sangat ingin mendapat sebuah peran, walaupun hanya peran kecil dalam sebuah Opera berjudul: The Swan itu.

Maka dengan dibantu temannya Meg (diperankan oleh Molly Shannon), Christine pun mulai mencari-cari materi yang sempurna untuk dinyanyikannya di casting nanti. Mereka mencari naskah-naskah partitur kuno di sebuah perpustakaan. Partitur-partitur kuno itu biasanya jarang dinyanyikan. Christine berharap dia bisa menemukan partitur yang bagus yang akan menarik perhatian para juri di acara casting tersebut. Dan mereka berhasil.

Mereka menemukan sebuah naskah partitur kuno berjudul Don Juan Triumphant yang digubah oleh Eric Destler (diperankan oleh Robert Englund). Christine sangat gembira dan langsung mencoba menyanyikan partitur itu. Tapi tiba-tiba saja, gambar-gambar not balok itu mengeluarkan darah dan membanjiri telapak tangannya. Ia menjerit sampai temannya datang menghampiri dan menanyakan keadaanya. Tapi saat itu, tangannya sudah bersih dan noda darah itu tidak kelihatan lagi.

Akhirnya dia tiba di tempat casting. Ketika gilirannya tiba, dia pun tampil dan menyanyikan lagu Don Juan Triumphant itu dengan penuh penghayatan. Juri sangat terpesona mendengarnya. Namun tiba-tiba sebuah lampu panggung jatuh dan menabraknya tepat di bagian kepala. Christine pun terjengkang dan pingsan.

Ketika tersadar, ia tiba-tiba sudah berada di tempat lain. Tepatnya pada sebuah latihan opera di Inggris, di Gedung Opera London yang terkenal itu. Dia mendapat sebuah peran kecil dalam Opera berjudul: Don Juan Triumphant. Dan kebetulan memang dalam latihan itu dia jatuh pingsan karena ada sebuah karung yang jatuh dari langit-langit panggung dan menimpanya. Tapi dia tidak apa-apa.

Joseph Buquet (diperankan oleh Terence Beesly, kru yang bertugas mengangkat layar mengatakan bahwa ia melihat ada hantu yang menjatuhkan karung itu ke panggung. Tapi dia harus membayar mahal perkataannya itu. Karena meskipun teman-temannya yang lain tidak percaya, hantu itu memang ada. Hantu inilah yang kemudian membunuh Joseph dan mengulitinya.


Kemudian hantu itu mendatangi kamar Christine. Christine menyadari keberadaan hantu itu. Tapi ia mengira kalau itu adalah malaikat yang dikirim ayahnya kepadanya, untuk membantunya berlatih. Karena di masa hidupnya, ayahnya lah yang mengajarinya bernyanyi. Dan hantu itu memang mengajarinya bernyanyi, tapi bukan nyanyian yang menjadi perannya dalam opera itu. Tapi dia mengajari Christine menyanyikan lagu pemeran utama, Marquerite, yang sebenarnya diperankan oleh La Carlotta (Stephanie Lawrence). Hantu itu berjanji akan membantuk Christine untuk mendapatkan peran utama menggantikan Carlotta.

La Carlotta sendiri sudah menjadi diva terkenal di dunia opera. Sayangnya, dia sangat sombong dan jahat. Dia mengetahui kemampuan menyanyi Christine yang bagus. Ia menganggapnya sebagai rival dan ingin menyingkirkannya. Karena itu, ia memaksa pemilik Gedung Opera London itu untuk menyingkirkan Christine, atau dia tidak mau bernyanyi di pementasan.

Dan Carlotta mendapat ganjaran karena keiri-hatiannya itu. Si hantu menggantungkan mayat Joseph yang telah dibunuh dan dikulitinya, di dalam lemari baju Carlotta. Perempuan itu sangat terkejut dan ketakutan ketika melihatnya. Ia menjerit-jerit sampai suaranya habis dan ia tidak bisa lagi bernyanyi untuk pementasan. Maka dipilihlah Christine untuk menggantikannya. Dan penonton sangat menyukainya, meskipun dia belum seahli Carlotta yang sudah lama menjadi penyanyi opera.

Cerita opera itu ternyata menggambarkan si hantu dalam masa hidupnya. Dia adalah seorang penggubah lagu yang berbakat dan menginginkan agar karyanya juga diingat dan dikenal oleh dunia, seperti karya-karya Mozart dan Beethoven. Untuk itu ia rela menjual jiwanya kepada setan, yang menjanjikan bahwa ia bisa membuat si hantu terkenal. Tapi karena pada dasarnya setan memang tidak bisa dipercaya, si setan juga merusak wajah si hantu hingga menjadi buruk rupa, sambil berkata:
Dunia memang akan menyukai dan mengingat lagumu. Tapi hanya itu saja yang akan mereka sukai darimu.
Demikianlah, seumur hidupnya si setan tidak bisa bergaul dan bersosialisasi sebagaimana layaknya manusia.

Christine yang berhasil memukau penonton malam itu langsung menjadi terkenal dan buah bibir di kalangan penikmat opera. Seluruh koran memuat berita keberhasilannya itu. Dan Christine sangat gembira. Tapi keriaan itu menjadi surut. Ketika ia membaca ulasan dari seorang kritikus opera yang sangat terkenal. Kritikus itu malah berpendapat kalau penampilan Christine malam itu sangatlah buruk dan tidak layak dibandingkan dengan Carlotta yang sudah menjadi diva.

Si hantu yang mengetahui hal ini langsung bertindak dan membunuh si kritikus karena telah menyakiti hati gadis pujaannya. Lalu kemudian mendatangi Christine dan menghibur hatinya. Dia menjanjikan pada gadis itu, bahwa ia bisa membuatnya sangat terkenal dan disukai banyak orang. Dan tidak akan ada yang berani mengkritiknya. Dalam kesedihannya Christine setuju. Dan mengikuti si hantu pulang ke tempat tinggalnya.

Ternyata dia tinggal di saluran got tepat di bawah Gedung Opera London. Saat itulah Christine menyadari, kalau si hantu ternyata adalah Eric Destler. Dan disitu pula hantu Eric memaksa Christine menerima lamarannya dan menyelipkan cicin di jari manisnya. Christine tidak bisa menolak dan tidak bisa melepaskan cincin itu dari jarinya.

Kemudian serombongan orang yang dipimpin oleh seorang polisi mencari keberadaan Christine. Seorang gelandangan yang juga tinggal di got di bawah Gedung Opera London membantu menunjukkan jalan kepada mereka. Karena ia pernah melihat hantu Eric membawa Christine masuk ke got itu. Eric yang mengetahui kejadian ini kemudian membunuh semua orang terlibat dalam pencarian itu. Namun, Richard (yang diperankan oleh Alex Hyde-White), kekasih Christine dan Inspektur Hawkins (diperankan oleh Terence Harvey), si kepala polisi itu, masih hidup dan berhasil menemukan tempat tinggal Eric.

Dengan marah, Eric juga membunuh mereka berdua di depan mata Christine. Gadis itu sangat marah, lalu menyambar lilin yang menyala dan melemparkannya ke tumpukan kertas karya terbaru Eric Destler yang masih belum selesai. Eric menjerit, karena karya-karya itu adalah jiwanya. Tanpa karyanya ia akan mati. Tapi karena api begitu cepat menyambar, kumpulan kertas itu pun terbakar dengan cepat dan hantu Eric pun musnah. Pada saat itu, Christine pun pingsan.

Ketika tersadar, Christine telah kembali ke casting opera yang dilakukan di New York. Semua orang tengah mengerubunginya ketika ia pingsan terhantam lampu panggung. Saat itulah dia kemudian bertemu dengan Foster, pemilik gedung opera itu, yang wajahnya sangat mirip dengan Eric Destler. Dan Foster memang arwah Eric yang hidup kembali, karena Christine menyanyikan partitur lagu ciptaannya, Don Juan Triumphant. Partitur yang berubah menjadi darah itulah yang membuktikan kebangkitan awal dari Eric. Dan kini ia masih tetap mengincar Christine.

Tapi kali ini, Christine tidak mau lagi terbujuk dengan janji Eric akan ketenaran dan keberhasilan di dunia opera. Dia sudah mengalami hal itu di dalam mimpinya, dan ia tidak ingin itu terulang lagi. Maka kali ini, Christine menikam jantung Eric tanpa belas kasihan. Lalu melarikan karya-karyanya yang masih belum selesai, merobeknya dan membuangnya ke selokan. Termasuk juga partitur asli dari Don Juan Triumphant. Karena setiap kali ada yang menyanyikan partitur lagu itu, maka Eric Destler akan kembali hidup. Karena setan sudah menjadikan karyanya itu sebagai jiwanya.

PS: Untuk kawan-kawan yang menyukai artikel-ku tentang film, selanjutnya aku akan memindahkah tulisan tentang film ke blog khusus: Cerita Film. Tapi artikel yang masih ada disini masih tetap akan disimpan, hanya saja tidak akan bertambah lagi. Karena untuk selanjutnya, artikel tentang film akan kutuliskan di blog film itu saja. Terimakasih

Love In The Time of Cholera

Cerita film itu cukup menggugah. Dan ternyata, kisah ini diangkat dari novel pemenang Nobel Price karya Gabriel Garcia Marquez. Memang tidak sedramatis cerita cinta antara Leonardo dan Kate Winslet di film Titanic. Pada awalnya aku mengira kalau film ini akan menceritakan tentang penyebaran wabah kolera di Amerika Selatan. Ternyata, unsur kolera ini hanya sebagai pelengkap saja.

Yang menjadi kisah utama adalah penantian seumur hidup yang dilakukan seorang pria terhadap wanita yang sangat dicintainya sejak pandangan pertama. Klise? Ya, memang klise. Tapi jalan ceritanya sangat bagus. Dan pertambahan usia yang dialami setiap pemeran dalam film ini benar-benar terasa nyata. Ini membuat film ini tidak sia-sia untuk ditonton. Tapi karena jalan cerita yang klise itu pulalah aku tidak menuliskan jalan ceritanya secara mendetil, seperti pada The Other Boleyn Girl ataupun Coming Soon. Bisa mumet membacanya. Jadi cukup sinopsisnya saja.

Tokoh utama pria adalah Florentino Ariza (diperankan oleh Javier Bardem) seorang pemuda miskin yang bekerja sebagai operator di kantor telegraf. Keahlian utamanya adalah menulis puisi. Florentino seorang pria muda lugu yang belum pernah jatuh cinta pada wanita manapun seumur hidupnya.

Suatu hari, Florentino datang ke rumah Lorenzo Daza (diperankan oleh John Leguizamo), seorang pedagang keledai yang kaya raya, untuk mengantarkan sebuah pesan telegram. Disanalah ia bertemu untuk pertama kalinya dengan Fermina Daza (diperankan oleh Giovanna Mezzogiorno) muda yang sangat cantik. Florentino memandangnya tanpa berkedip.

Hubungan cinta mereka kemudian berlanjut secara sembunyi-sembunyi. Pengasuh Fermina yang bertugas mengantarkan semua surat-surat cinta mereka. Karena Florentino dan Fermina tidak bisa bertemu secara terang-terangan. Namun, hubungan cinta ini akhirnya terbongkar juga. Lorenzo Daza sangat marah mengetahui putri tunggalnya berhubungan dengan seorang pemuda miskin. Ia berharap Fermina akan bertemu dengan pria kaya raya yang lebih sepadan dengannya. Karena itu ia mengirim Fermina ke desa agar tidak berhubungan lagi dengan Florentino.

ia sangat terpukul dengan kejadian itu. Tapi karena cintanya yang sangat besar, ia bersumpah akan menunggu Fermina kembali, sampai kapanpun. Dia tidak akan pernah menikah dengan wanita manapun. Ia bahkan bertekad untuk tetap menjaga keperjakaannya agar nantinya dipersembahkan kepada Fermina seorang. Ia tidak perduli kawan-kawannya memandang aneh niatnya itu. Padahal, pada masa itu bisnis rumah bordil sangat berkembang.

Penantian Florentino akhirnya usai. Fermina pulang kembali ke kota asalnya. Ia telah tumbuh menjadi gadis dewasa yang lebih cantik lagi. Tapi ternyata, Fermina telah berubah. Cintanya pada Florentino sudah tidak ada lagi. Dia meminta agar Florentino melupakannya.


Pada saat itulah Fermina bertemu dengan Juvenal Urbino (diperankan oleh Benjamin Bratt) seorang dokter yang belajar di Paris. Ayahnya kemudian mengatur agar Fermina menikah dengan dokter kaya ini.

Florentino semakin terpuruk. Kerjanya hanya menangis dan mengurung diri setiap hari. Ibunya kemudian meminta tolong pada paman Florentino, agar pria yang sedang patah hati itu bisa mendapat pekerjaan di tempat yang jauh, agar ia bisa melupakan Fermina. Maka Florentino kemudian dikirim untuk bekerja ke Villa de Levya, yang berjarak tiga minggu perjalanan dari kota asalnya.

Tapi di tengah jalan, Florentino memutuskan untuk kembali ke kotanya lagi. Ia kembali memutuskan untuk tetap menunggu hingga Fermina mau menjadi kekasihnya lagi. Namun, ketika ia kembali, ia mendapati Fermina sudah menikah dengan Juvenal. Dan ia telah berangkat bersama suaminya menuju ke Paris untuk berbulan madu.
Karena keputus-asaanya, Florentino menjadi lupa diri. Ia kemudian mulai tidur dengan banyak wanita, untuk melampiaskan rasa sakit hatinya. Dan dia juga membuat sebuah jurnal yang berisi tentang semua wanita yang pernah tidur dengannya. Namun semua hubungan itu adalah hubungan-hubungan semalam yang berlangsung tanpa rasa cinta. Karena hatinya telah tertuju hanya kepada Fermina.

Dia menunggu selama 51 tahun. Ketika jumlah wanita yang tidur dengannya mencapai angka 622 orang. Akhirnya nasibnya berubah, sejalan dengan kematian Juvenal, karena usia tua. Florentino kembali menemui Fermina yang sudah menjanda. Untuk kesekian kalinya ia mengungkapkan kembali perasaannya pada wanita yang kini sudah tua itu. Fermina menganggapnya kurang ajar dan mengusirnya dari rumahnya. Tapi Florentino tidak menyerah. Dengan rajin ia tetap mengirimi Fermina surat-surat cinta seperti waktu mereka remaja dulu.

Tiga tahun kemudian baru hati Fermina luluh dan ia bersedia bertemu lagi dengannya. Perlahan-lahan ia mulai mengingat kembali perasaan yang dulu juga dimilikinya terhadap Florentino. Perasaan yang 53 tahun lalu telah ditentang keras oleh ayahnya. Akhirnya mereka kembali menjalin hubungan. Bukan hubungan cinta penuh gairah seperti waktu mereka muda dulu. Tapi lebih kepada hubungan yang menenangkan, diantara dua manula yang bahkan sudah berjalan dengan bantuan tongkat.

Ada satu adegan yang menurutku lucu sekaligus menyentuh. Yaitu ketika Florentino tua dan Fermina tua akan bercinta. Dengan malu-malu dan tidak percaya diri, Fermina menyuruh Florentino agar membuang muka dan tidak memandang tubuh telanjangnya yang sudah keriput itu.
”Kau tidak akan suka apa yang kau lihat.” katanya.
Tapi Florentino malah berdiri dan langsung membantunya membuka pakaian.
”Aku tidak perduli bagaimanapun bentuk tubuhmu saat ini.” katanya.
Menyentuh sekali. Cinta yang dipisahkan secara paksa di masa muda, akhirnya terpaut kembali di usia senja.

Tokoh-tokoh dalam film ini benar-benar mengalami perubahan wujud yang nyata sesuai dengan perjalanan usia mereka. Inilah yang kumaksud di awal tadi. Kerja make-up artisnya benar-benar luar biasa. Dan akting mereka juga patut diacungi jempol. Masa muda yang penuh gairah dan semangat sampai masa tua yang penuh kebijaksanaan dan bertambah lambatnya reaksi tubuh. Semua itu tergambar dengan sempurna di akting mereka. Benar-benar film yang sangat menarik. Pantas kalau novelnya mendapat hadiah Nobel.

PS: Untuk kawan-kawan yang menyukai artikel-ku tentang film, selanjutnya aku akan memindahkah tulisan tentang film ke blog khusus: Cerita Film. Tapi artikel yang masih ada disini masih tetap akan disimpan, hanya saja tidak akan bertambah lagi. Karena untuk selanjutnya, artikel tentang film akan kutuliskan di blog film itu saja. Terimakasih

Dan In Real Life

Dan Burns (diperankan oleh Steve Currel) adalah seorang duda muda dengan tiga orang putri Jane, Cara dan Lily. Dia mengajak ketiga putrinya untuk pulang ke rumah orang tuanya, dalam rangka liburan bersama dengan saudara-saudaranya yang lain. Sebenarnya Dan tidak terlalu menikmati suasana liburan itu. Dia merasa kesepian karena hanya dirinyalah yang tidak memiliki pasangan disana. Istrinya, Suzanne sudah meninggal. Dan kesepian ini ditambah lagi dengan kondisi kamar yang ditempatinya. Ibunya menjadikan ruangan tempat mesin cuci sebagai kamar darurat baginya. Dengan pertimbangan, karena dia toh tidur sendirian disana. Sementara saudara-saudaranya yang lain punya istri/suami, jadi mereka mendapatkan kamar sendiri-sendiri. Dan tidak ada kamar yang tersedia untuk Dan.

Tanpa sengaja Dan bertemu dengan seorang wanita, Marie (diperankan oleh Juliette Binoche), ketika sedang membeli surat kabar di toko buku. Marie salah mengira kalau Dan adalah pegawai disana dan meminta bantuannya untuk memilihkan beberapa buku untuknya. Dan mereka melanjutkan perkenalan mereka dengan sarapan bersama di kafe yang ada di toko buku itu. Tanpa sadar, Dan menceritakan seluruh kisah hidupnya pada Marie yang baru dikenalnya itu, sampai menjelang siang. Ketika tiba-tiba Marie mendapat telepon dan harus segera pergi. Dan begitu terpesona dan merasa kalau dia telah jatuh cinta pada pandangan pertama dengannya.

Tapi akhirnya Dan mengetahui kalau Marie adalah kekasih Mitch (diperankan oleh Dane Cook), adiknya. Karena mereka bertemu kembali di rumah. Marie diundang oleh Mitch untuk ikut dalam liburan keluarga mereka, sekaligus ingin memperkenalkannya sebagai kekasihnya. Fakta ini membuat suasana jadi serba canggung antara Dan dan Marie. Tapi mereka sepakat untuk merahasiakan pertemuan mereka dulu.

Namun Dan tidak mampu menahan kecemburuannya, ketika melihat kemesraan Mitch dan Marie di meja makan. Dan dia tanpa sadar telah menyinggung perasaan Mitch, dengan menceritakan semua gadis mantan pacar Mitch yang pernah dibawanya juga. Kejadian ini juga membuat keluarga besarnya kecewa dengan sikap Dan. Akhirnya Dan memutuskan untuk mencari hiburan di luar rumah saja, agar dia tidak harus melihat Marie. Namun tanpa disadarinya juga, ternyata Marie diam-diam sering mencuri pandang padanya.

Dan juga mencoba mendekati putri-putrinya agar bisa bersama-sama seperti biasanya. Tetapi mereka sudah beranjak dewasa dan tidak ingin berada dekat-dekat ayahnya lagi. Mereka bahkan cenderung lebih dekat dengan Marie. Kenyataan ini membuat Dan semakin gundah.

Kelakuan Dan yang canggung dan aneh itu membuat orang tuanya heran. Mereka menduga itu karena Dan sudah terlalu lama menduda dan hanya mengurus anak-anaknya. Jadi, mereka mengatur sebuah kencan buta untuk Dan. Awalnya Dan menolak. Karena wanita yang mereka sodorkan, Ruthie Drape (diperankan oleh Emily Blunt), adalah teman masa kecilnya dulu. Dia dujuluki ’si muka babi’ karena jelek dan gendut. Namun, karena seluruh keluarga juga ikut memaksa, akhirnya dia mengalah dan setuju. Dan Mitch mengajak Marie juga agar ikut dengan kencan ganda ini.

Tapi betapa kagetnya mereka semua, karena ternyata Ruthie Drape telah menjelma menjadi gadis dewasa yang cantik dan seksi. Dan dan Ruthie berdansa di sebuah club, Marie yang merasa sedikit cemburu dengan kemesraan Dan dan Ruthie yang cantik, mengajak Mitch berdansa juga bersamanya. Mereka berdua bersaing untuk membuat cemburu satu sama lain. Dan kencan itu berakhir dan Dan memutuskan untuk tidak pulang ke rumah malam itu. Marie memandangi kepergian Dan dan Ruthie dengan sedih dan cemburu. Dan keesokan paginya, dia menunjukkan kemarahannya. Dengan membuatkan pan cake gosong untuk sarapan Dan.

Pada sebuah kesempatan, dimana setiap anggota keluarga tampil menunjukkan bakatnya masing-masing. Dan tampil dengan menyanyikan sebuah lagu cinta yang dimainkan dengan gitarnya. Syair lagu itu diciptakan secara spontan dari hatinya, khusus untuk Marie. Marie yang sebenarnya juga memendam perasaan pada Dan tapi tidak tega memutuskan Mitch karena akan menyakiti hati keluarga besarnya juga, akhirnya memilih untuk pergi dari rumah itu.

Mitch begitu sedih karena kepergian Marie. Segala hal yang dilakukannya menggambarkan kesedihannya itu. Demikian juga seisi keluarganya. Tapi, diam-diam Marie menelepon Dan dan mengajaknya untuk bertemu di suatu tempat. Dan menyetujuinya. Dan mereka bertemu di tempat bermain bowling. Mereka menghabiskan sisa hari itu dengan bermain bowling bersama.

Tapi tanpa diduga, keluarga besar Dan kebetulan datang juga kesana. Dan mereka terkejut melihat Dan dan Marie disana. Karena emosi, Mitch meninju dan hingga terjatuh. Dan Marie memilih untuk segera pergi.

Kemudian Dan harus menghadapi kemarahan keluarga besarnya. Termasuk anak-anaknya yang merasa diacuhkan, sejak Dan terlalu sibuk mencari perhatian Marie. Dan mengalah dan minta maaf pada mereka. Tapi dengan jujur dia mengakui perasaan cinta yang dimilikinya pada Marie. Karena terharu, ketiga putrinya meminta Dan pergi untuk mencari dan mendapatkan Marie kembali.

Di akhir cerita, Dan dan Marie menikah dengan diiringi putri-putrinya sebagai pengiring pengantin. Sementara Mitch tetap berhubungan dengan si cantik Ruthie Drape.

PS: Untuk kawan-kawan yang menyukai artikel-ku tentang film, selanjutnya aku akan memindahkah tulisan tentang film ke blog khusus: Cerita Film. Tapi artikel yang masih ada disini masih tetap akan disimpan, hanya saja tidak akan bertambah lagi. Karena untuk selanjutnya, artikel tentang film akan kutuliskan di blog film itu saja. Terimakasih

The Other Boleyn Girl

Thomas Boleyn (Mark Rylance) adalah seorang ayah dari 3 anak. Anne Boleyn (Natalie Portman) yang periang dan suka mencari tantangan, Mary Boleyn (Scarlett Johannson) pendiam dan penurut dan selalu berada di bawah bayang-bayang Anne yang dominan. dan George Boleyn (Jim Sturgress ). Ia dan ketiga anaknya, tinggal bersama istrinya Elizabeth (Kristin Scott Thomas) di sebuah desa.
Thomas memiliki seorang adik ipar bernama Thomas Howard, seorang bangsawan yang bergelar Duke of Norfolk yang licik dan sangat berambisi untuk bisa menjadi bangsawan kaya raya. Dia selalu menghasut abang iparnya agar mencari jodoh pria-pria kaya untuk kedua anak gadisnya yang cantik jelita. Setiap keluarga menggunakan anak mereka untuk bisa meraih status social yang lebih tinggi di masa itu. Akhirnya, Mary dilamar oleh William Carey (Benedict Cumberbatch), seorang anak pedagang kaya. Pernikahannya dilaksanakan dengan meriah dan Mary sangat mencintai pria itu.

Sementara itu, di istana, permaisuri Katherine of Aragon (Ana Torrent) menderita tekanan batin karena tidak bisa memberikan keturunan laki-laki sebagai pewaris kerajaan. Anak yang terakhir dilahirkannya yang berjenis kelamin lelaki, tapi sayangnya meninggal.. Raja Henry VIII (Eric Bana), sangat marah dan kecewa karena itu. Dia sudah terlalu lama menunggu hadirnya seorang putera sebagai pewaris kerajaannya. Akibatnya, hubungan antara Raja dan Ratu mulai memburuk. Duke of Norfolk melihat hal ini sebagai kesempatan untuk bisa meraih impiannya. Dia beranggapan kalau raja akan segera mencari hiburan dengan mengambil seorang gundik. Kemudian dia menghasut abang iparnya itu, mulai berancang-ancang untuk menyodorkan putri sulungnya yang belum menikah, Anne sebagai salah satu calon gundik raja.

Tujuannya tak lain agar derajat nya bertambah dan kekayaan mereka bertambah. Ayahnya setuju, lalu membujuk Anne agar mau mencoba, sebelum keluarga-keluarga bangsawan lainnya menyadari. Awalnya Anne tidak setuju, tapi ayahnya membujuk dengan setengah memaksa. Agar keluarga mereka bisa kaya dan naik statusnya. Thomas juga berhasil memaksa istrinya menyetujui rencananya, untuk menyelenggarakan pesta di rumah mereka dengan tujuan untuk memancing perhatian raja kepada Anne yang cantik. Istrinya mula-mula tidak setuju, karena untuk mengundang raja akan butuh biaya pesta yang sangat besar, tapi Thomas tetap memaksa. Didukung oleh Thomas Howard.

Anne yang mula-mula tidak setuju, akhirnya mengalah dan bertekad untuk bisa melaksanakan tugas yang diberikan ayahnya, untuk menundukkan raja Inggris, itu dengan baik. Dia menjadikan tugas itu sebagai tantangan yang menarik.


Akhirnya raja pun datang berkunjung untuk memenuhi undangan pesta keluarga Boleyn. Lengkap dengan sepasukan besar prajurit pengiringnya. Seluruh keluarga itu bersiap-siap menyambutnya. Dan Thomas pun memperkenalkan Anne, tapi mengabaikan Mary, karena dia sudah menikah. Ibunya hanya bisa memandang sedih melihat putri mereka diperlakukan seperti dagangan oleh ayahnya.

Keesokan harinya, raja mengadakan perburuan. Anne juga ikut dengan menunggang kudanya sendiri. Raja memandangnya dengan heran. Karena hal seperti itu tidak lazim pasa masa itu. Tapi ternyata perburuan itu membawa bencana. Raja terluka, ketika berusaha menolong Anne. Padahal Anne sangat mahir dalam berburu. Jadi, Anne selamat dan Raja terluka. Akibatnya, harga diri Raja sangat terluka.

Thomas Howard lalu menghasut abang iparnya agar menyodorkan Mary saja, karena takut Raja sudah membenci Anne karena kejadian itu. Maka Mary pun diminta merawat luka-luka raja. Dengan malu-malu dan risih, Mary menerima. Karena sebenarnya dia sudah berstatus istri orang. Dan ternyata, raja lebih terpesona kepada Mary dan memintanya untuk bekerja sebagai dayang di istana. Semua orang memahami, bahwa itu artinya dia ingin mengangkat Mary sebagai gundik. Sementara suaminya ditugaskan sebagai dewan penasihat raja. William setuju dengan berat hati karena dipaksa oleh Duke Norfolk, dan tidak bergeming bagaimanapun Mary membujuknya agar menolak tawaran itu. Mary meminta agar Anne saja yang dikirim. Tapi, ayahnya memaksa agar ia juga ikut pergi ke istana.

Sementara Anne sendiri jadi membenci Mary. Dia menganggap adiknya itu telah merebut calon suaminya. Dia tidak perduli ketika Mary berusaha membantah hal itu. Dan menjelaskan bahwa kebetulan memang raja menginginkan seorang wanita yang pendiam dan penurut seperti dirinya. Tidak seperti Anne yang riang dan mandiri, dan seperti tidak membutuhkan bantuan laki-laki.

Akhirnya Mary dan Anne pun dikirim untuk bekerja di istana dan bekerja sebagai dayang permaisuri. Permaisuri yang terkejut menerima kedatangan mereka. Dan segera menyadari kalau raja menginginkan Mary menjadi gundiknya. Dan dia tidak menyukainya, tapi tidak menganggap Mary sebagai ancaman. Karena pembawaannya yang pendiam dan lugu.

Di istana, William pura-pura menutup mata dan tidak mengetahui kalau istrinya tidur dengan raja. Dia sendiri merasa kalau suasana istana ini tidak menyenangkan untuknya.
Begitu ayah dan pamannya meyakini kalau raja sudah sangat terpesona dengan Mary, mereka mulai mempersiapkannya sebagai pengganti permaisuri. Perlahan-lahan, Mary juga mulai menyenangi hubungannya dengan raja itu. Dan tidak perduli lagi dengan suaminya. Dan William pun ditugaskan ke tempat yang jauh dari istana.

Sementara itu, karena putus asa Anne menikah diam-diam dengan Henry Percy (Oliver Coleman), seorang bangsawan yang telah bertunangan dengan Mary Talbot (Tiffany Freisberg). Dengan tujuan, agar ia bisa memperoleh status sebagai istri bangsawan. Mary memberitahukan hal ini kepada ayahnya. Ayah dan pamannya sangat marah. Pernikahan itu dianggap tidak sah dan mengirim Anne ke Prancis untuk diasingkan. Dan Anne sangat membenci Mary karena membocorkan berita ini kepada ayah mereka.

Akhirnya Mary menunjukkan tanda-tanda kehamilan. Dengan gembira raja menyampaikan sendiri kabar ini kepada Thomas Boleyn. Sebagai hadiah, keluarga mereka mendapat kenaikan status, ayahnya mendapat gelar Earl, abangnya mendapat gelar Viscount dan mereka diberi sebuah istana. Ayahnya memutuskan bahwa George akan dijodohkan dengan Jane Parker (Juno Temple), yang masih kerabat dekat raja. Hal ini untuk semakin memantapkan posisi mereka di istana. George menolak karena ia tidak mencintainya tapi akhirnya terpaksa menuruti kehendak ayahnya.

Ternyata rahim Mary lemah, anak yang dikandungnya hampir saja gugur. Maka untuk menghindari hal itu, tabib istana memutuskan kalau ia pun harus dipingit dan tidak bisa tidur bersama raja. Hal ini meresahkan pamannya, mengingat tabiat Henry yang senang bergonta-ganti wanita. Mereka mencari cara agar perhatian raja tidak teralih kepada wanita lain.

Dengan itu, Thomas Boleyn meminta Anne kembali dari Prancis, sesuai dengan saran Lord Norfolk. Anne ditugaskan untuk menghibur raja sekaligus menjaga agar perhatiannya tetap tercurah kepada Mary, selagi dia terpingit untuk menjaga kandungannya. Anne melihat hal ini sebagai kesempatan baginya, untuk mengambil alih posisi adiknya, Mary.

Di Prancis, Anne telah belajar bagaimana caranya menjadi wanita bangsawan yang pintar menarik perhatian pria. Seorang wanita mandiri yang tahu bagaimana caranya membuat pria tersanjung dan sekaligus mampu memahami politik dan intrik istana. Perubahan sikapnya telah membuat raja telah memaafkan perbuatannya dulu dan menerimanya kembali di istana.

Mary yang mengetahui kabar ini menjadi resah. Karena dia mengetahui apa yang bisa dilakukan Anne untuk merebut perhatian Raja darinya. Tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa karena sedang dipingit, untuk menjaga kehamilannya. Dan Raja yang kesepian karena tidak bisa bertemu dengan istrinya, perlahan-lahan mulai terpikat pada sosok Anne yang menarik. Dengan kelihaiannya, Anne berusaha memikat Raja. Lalu Henry mengirimkan sebuah bros permata untuk Anne, dengan harapan Anne bersedia menyerahkan dirinya kepada Raja. Anne yang punya rencana licik, mengirimnya kembali kepada raja. Henry semakin penasaran dan bersedia melakukan apapun, agar Anne mau tidur dengannya.

Sementara itu, hubungan Anne dan Mary semakin memburuk. Anne mengunjungi kamar Mary dan menggunakan kesempatan itu untuk membuat Mary kesal. Ia mengatakan kalau Raja sedang mengejar-ngejar dirinya dan tidak memperdulikan keadaan Mary yang sedang dipingit.

Akhirnya Mary melahirkan anaknya. Ketika proses itu sedang berlangsung, Henry berlutut di hadapan Anne dan menyatakannya sebagai cinta sejatinya. Dengan berjanji, bahwa ia tidak akan berbicara atau berhubungan dengan Mary ataupun permaisuri lagi. Hanya dengan Anne. Asalkan Anne mau berhubungan dengannya. Ia bahkan mengambaikan anak Mary dan pergi begitu saja.
Paman dan ayahnya sangat marah melihat hal itu. Dan dengan kejam, Anne memberitahu Mary kalau ia dan bayi haramnya akan dikirim ke kampung halamannya. Dan raja menyetujuinya.

Anne mempunyai harapan yang lebih tinggi dari Mary. Kalau Mary sudah bahagia hanya dengan menjadi gundik raja, Anne ingin menjadi permaisuri dan menyingkirkan ratu yang masih hidup saat itu. Ratu Katherine memandangi kepergian Mary dari jendela. Ia menyadari ada hal lain yang akan terjadi. Setelah kepergian Mary, raja kembali menanyakan apakah Anne akan bersedia tidur dengannya.

Anne mengajukan syarat, bahwa ratu Katherine harus disingkirkan dari istana. Bahwa Raja harus mengirim Ratu Katherine ke biara. Dan ia ingin menikah secara resmi dengan Henry. Hal itu sebenarnya tidak mungkin, karena raja hanya bisa memiliki seorang istri sah. Anne menyarankan agar raja menceraikan Ratu Katherine.

Tiba-tiba, raja menerima sebuah surat dari Mary Talbot yang berisi pengajuan cerai, karena suaminya, Henry Percy diketahui telah tidur dengan Anne Boleyn, sebelum menikah dengannya. Raja sangat marah. Dia tidak mau bertemu dengan siapapun dari keluarga Boleyn, kecuali Mary yang sangat dipercayainya. Anne berusaha membujuk Mary agar mau berbohong deminya, dan membantah hal itu. Mary bersedia. Anne sangat berterimakasih. Tapi Mary mengatakan kalau ia hanya melakukan hal itu sebagai tawaran berdamai dengan saudarinya. Dan Anne meminta agar Marypun kembali tinggal di istana.

Pengadilan terhadap Ratu Kathernie pun dilakukan, dengan tujuan untuk mengirim ratu ke biara. Tapi Ratu menolak pengadilan itu dan menuntut untuk bicara langsung kepada Paus. Tapi tetap saja raja mengirimnya ke biara. Dan mengabaikan risiko bahwa Inggris akan dikucilkan Katolik dan terancam dikuasai Protestan. Raja yang sudah terpikat dengan Anne, akhirnya menyetujui saja semua persyaratan Anne, asalkan ia bersedia tidur dengannya.

Anne dan Henry pun menikah, dan Anne diangkat menjadi ratu. Tapi dia tidak bisa melahirkan seorang putera juga. Anak pertamanya perempuan, diberi nama Elizabeth. Ketika itu, Raja sudah mulai kehilangan perhatian padanya dan mendekati wanita lain, Jane Seymour (Corinne Galloway). Dia berusaha untuk hamil lagi. Namun kali ini, Anne mengalami keguguran. Karena ketakutannya, Anne meminta agar saudaranya, George tidur dengannya agar dia bisa hamil lagi, sebelum raja mengetahui tentang keguguran yang dialaminya.

Mary begitu terkejut dan kecewa melihat keinginan Anne, hingga akhirnya dia memutuskan untuk pergi meninggalkan istana malam itu juga. Sambil berdoa agar Tuhan memafkan dosa besar yang akan diperbuat abang dan kakaknya. Tanpa sepengatahuan mereka, Jane Parker melihat Anne dan George berduaan di tempat tidur. Walaupun sebenarnya tidak terjadi apa-apa, karena George tidak mampu memenuhi keinginan Anne.

Tapi, Jane yang merasa ditelantarkan oleh George, mengadukan perbuatan ini kepada raja. Raja sangat murka dan meminta agar Anne segera diadili dengan tuduhan melakukan incest. Pamannya, Lord Norfolk termasuk salah seorang dari bangsawan yang menyatakan Anne bersalah dan dihukum pancung.

George mendapat hukuman pancung terlebih dahulu, menyusul kemudian Anne. Meskipun Mary datang menghadap Raja, untuk memohon agar saudarinya itu dibebaskan, tapi raja tidak mengabulkannya. Anne tetap dihukum pancung, dan Mary diusir dari istana. Dia tidak diperbolehkan lagi datang, kalau ia datang, maka ia akan dihukum juga.

Setelah pemancungan itu, Mary membawa putri Anne, Elizabeth, pergi dari istana. Sir Thomas Boleyn meninggal karena malu dan sedih dua anaknya tewas dihukum pancung. Sementara pamannya, Lord Norfolk, dipenjara. Sejarah mencatat, tiga keturunannya, anak-cucu-cicit, tewas dipancung karena kasus penghianatan.

Mary Boleyn menikah lagi dengan William Stattford dan memilih untuk tinggal di desa, membesarkan putranya dan putri Anne, Elizabeth.Elizabethlah yang kemudian akan memerintah Inggris selama 45 tahun.

PS: Untuk kawan-kawan yang menyukai artikel-ku tentang film, selanjutnya aku akan memindahkah tulisan tentang film ke blog khusus: Cerita Film. Tapi artikel yang masih ada disini masih tetap akan disimpan, hanya saja tidak akan bertambah lagi. Karena untuk selanjutnya, artikel tentang film akan kutuliskan di blog film itu saja. Terimakasih