Trapped in Texas Hold'Em Poker

Right no, I'm watching a TV show about people who become so addicted to a famous game on Facebook right now, Texas Hold'em Poker. I think you should watch this show for yourself, especially if you are one of them. Texas Hold'em Poker makes online gambling looks fun and how you can do it for killing time. But this show will tell you that something seriously bad is going on behind it.

So many people have already trapped deeper and deeper into this online gambling. A smart college student who wants to try his luck for a few times, finally became so addicted and started to use his school fund to as a bet for this game. He even use the money from an account he shared with his parents. The parents received so many letters regarding unknown transaction in their account. When he realized that could not rely on that account any longer, he turned into criminal action, robbing a bank. Eventually, he surrender himself into the police and admitted the robbery.

There was also a stay at home mother (like me) who become so addicted with this game. Unconsciously, she used almost every penny her family had in the account as a bet. She confessed that it's because every time she feels like she's going to win, she always lost her bet by the end of the game. She's curious and keep betting her money for the next game until nothing's left in her account. Could you imagine that?

I believe that this isn't only happening in other country as we may find the similar cases around us now. You can say that numerous number of people are getting deeper in addiction to Texas Hold'em Poker and continue to gamble. If you are one of them, take your time for a moment to look at your situation. Maybe, just maybe, some of you have already won a big amount of money right now, but have you consider about the amount of money you use as betting to gain that result?

I love games too, I really do. I play almost every kind of games in Facebook but I always remind myself that it's all just for fun. I won't give a penny to buy anything to complete my game and I will definitely avoid the gambling game like Texas Hold'em Poker. Gambling is gambling. They can trap you whether you realize it or not. Always remind yourself, that it's all just game! Just a game! And I won't give any money for it anyhow!

Image Source: www.pokerbandits.ca

The Hunt Of The Last Nazis

Have you ever watched a program on History Channel about The Last Nazis? I watched this program since last month and become a fan ever since. It’s about the hunt of war criminals that used to join NAZI and become part of Holocaust. At WW2, they’re all young soldiers with muscularly steady body and ready to do anything. But now, they’re just old men and almost senile. If you saw them without knowing any of their dark past as human slaughterers, you would have considered them as kind old men with big smile who greet everyone they met in the street with smile. But it will soon change after you know that they used to take part of killing thousand of Jewish people in Holocaust.
These war criminals are hunted for trial. They must pay for what they’ve done in their young age. And guess what, almost every one of them confesses that they’re innocent and blame all of it to other soldier or their superiors. How they couldn’t take responsibility for thing they didn’t do and they feel terribly humiliated by the media about this. But, don’t get tricked by all those wrinkles and their weakness of old age. They were sentenced guilty in court and were sent to jail for the rest of their lives. But the hunt is not over yet. There are many of these war criminals who appeared as untouchable. Some of them are incredibly rich and able to hide in different countries or bribe everyone to help them doing so. Including the “Doctor Death” who used to do some horrific and needles experiments using Jewish detainee to fulfill his need of slaughtering people, Aribert Heim. His experiments killed hundreds of people that time. What an evil monster. So, the hunt of the last Nazis is still going on.

Image Source: gypsysavage.files.wordpress.com

Susahnya Minta Maaf

Ada banyak alasan kenapa orang tidak bersedia meminta maaf. Ada karena dia memang tidak mau mengakui kesalahannya, meskipun situasi dan kondisi menunjukkan sebaliknya. Sebab, orang meminta maaf itu ada alasannya, dan sebelum meminta maaf, tentunya terlebih dahulu dia harus mengakui kesalahannya. Ada juga yang merasa takut akan penghakiman orang, setelah dia memberikan sebuah pengakuan atas kesalahannya dan meminta maaf. Ada juga yang tidak bersedia meminta maaf karena belum siap menghadapi konsekuensi dari permintaan maafnya itu, misalnya diminta untuk membereskan masalah yang timbul akibat kesalahannya, dsb. Ada semacam perjanjian (tertulis ataupun tidak tertulis) untuk menyatakan kalau dia tidak akan mengulangi kesalahan yang sama di masa depan. Dan masih banyak lagi, mungkin kawan-kawan juga punya pendapat sendiri tentang kenapa orang tidak bersedia meminta maaf.

Setelah dilihat-lihat, ternyata alasan-alasan di atas memang termasuk kategori berat untuk dihadapi. Karena tak semua orang bisa dengan rela mengakui kesalahannya, lalu orang mana yang bisa menghadapi semua hujatan dan penghakiman dengan tenang? Tapi itulah sebabnya, hanya orang-orang yang berbesar hati dan berjiwa ksatria yang mampu dan bisa meminta maaf untuk semua kesalahannya.

Karena memang tak ada satupun manusia di dunia ini yang luput dari kesalahan. Tak satupun yang paling benar, tak satupun yang paling suci dan tak satupun yang paling bersih. Tapi dunia tetaplah dunia, lengkap dengan mahluk hidup penghuninya yang penuh kekurangan. Meskipun dirinya sendiri penuh kesalahan, dia masih bisa menghujat orang lain yang melakukan kesalahan. Jadi, apa boleh buat, sepertinya sudah menjadi kebiasaan manusia, kalau bersalah (mengaku atau tidak) pasti akan mendapat penghakiman/hujatan. Dan kalau masih ada yang berani meminta maaf dengan tulus, meskipun sudah mengetahui akibat dari permintaan maafnya itu, pastilah dia seorang yang berjiwa besar.

Orang-orang seperti Tiger Wood, Bill Clinton, Anji-Drive, Sheila Marcia, Pasha-Ungu, ataupun Cut Tary, bisa dikategorikan dalam kelompok yang berjiwa besar itu. Memang, dengan meminta maaf, bukan berarti semua permasalahan selesai. Tapi dengan kata maaf, setidaknya hujatan dari sesama manusia bisa diminimalisir. Kan orangnya sudah mengakui kesalahan dan meminta maaf, mau apa lagi toh? Sudah kodrat manusia untuk berbuat kesalahan kan? Bahkan banyak orang-orang berbalik jadi merasa iba, setelah melihat seseorang mengakui kesalahannya dan meminta maaf. Artinya, setelah hujan hujatan, kebanyakan disusul hujan simpati...

Meminta maaf kepada satu orang saja, sulitnya bukan main kan? Apalagi meminta maaf di hadapan media dan ditonton oleh orang banyak?!?! Tapi, yakinlah…tidak semua orang mau dan mampu untuk meniru tindakan mereka. Tidak semua orang!

Dokumentasi Kamar Tidur

Tak habis pikir aku! Apa sebenarnya tujuan merekam hubungan intim suami istri ya? Itu kan suatu hal yang sifatnya sangat pribadi dan hanya perlu diketahui oleh suami istri itu sendiri. Tak perlu direkam pun, keduanya pasti sudah mengetahui setiap detilnya. Lantas, kenapa masih tetap perlu direkam ya?
Ada yang pernah memberi alasan: “untuk dokumentasi pribadi”. Nah loh, untuk apa juga hal seperti itu didokumentasikan? Sedangkan orang yang mencuri saja berusaha sebisa mungkin untuk menutupi jejaknya dan menghapus dokumentasi apapun. Lah, ini hal yang paling pribadi sekali malah dibuat dokumentasinya. Aya naon?

Banyak yang beranggapan kalau dokumentasi apapun bisa dihapus begitu pemiliknya tidak menginginkannya lagi. Tapi, jangan salah dulu. Perangkat modern zaman sekarang ini (seperti ponsel, kamera, handycam) sudah cukup canggih loh. Semua data yang sudah kita hapus bisa dikembalikan dalam hitungan detik saja, oleh seorang ahli. Tak perduli betapa cermatnya kita menghapus data itu sebelumnya. Jadi, tak ada jaminan kalau data yang kita hapus itu benar-benar terhapus. Jadi, kalau tidak yakin, lebih baik jangan didokumentasikan sekalian.

Kembali ke topik tadi dulu. Sedangkan pasangan suami-istri saja pasti merasa malu kalu urusan kamar tidur mereka jadi konsumsi publik. Apalagi yang bukan suami-istri?!?! Amit-amit! Apa ya yang ada dalam pikiran pelaku hubungan haram seperti ini ketika mendokumentasikannya? Khususnya, si perempuan. Apa dia tidak sadar kalau dia sudah menyerahkan harga dirinya yang tersisa ke sebuah kamera atau ponsel ya? Bahwa rekaman itu bisa saja dengan mudah menyebar, serapat apapun dia berusaha menyimpannya?

Dan kalau sudah begini, tak ada lagi yang namanya jalan kembali. Sekali kotoran itu sudah terlempar ke wajah, tak akan pernah bisa terhapus hingga bersih lagi. Baunya pasti tetap tinggal. Apalagi kalau yang menjadi objeknya adalah public figure. Tapi, yah kembali lagi, semua tergantung pada kepribadian pihak-pihak terkait juga ya. Kalau memang tipe manusianya adalah tipe yang tidak punya rasa malu, dia pasti akan cuek bebek dan mengabaikan komentar orang. Tapi, kalau dia masih memiliki kesadaran (hati nurani), pasti rasa malunya sudah tak tertahankan lagi.

Sebuah pengalaman pahit yang benar-benar bisa diambil hikmahnya, khususnya oleh mereka-mereka yang bukan sebagai objek penderita. Agar memikirkan matang-matang, sebelum merekam aktivitas apapun yang bisa menimbulkan aib di kemudian hari. Biarlah urusan kamar hanya disimpan di dalam kamar. Toh masih banyak hal lain yang bisa didokumentasikan, seperti liburan keluarga atau acara hebohnya acara nonton bareng piala dunia. Betul tak?

Upin-Ipin versi Indonesia

Banyak orang sekarang “mengelu-elukanUpin dan Ipin sebagai tontonan bermanfaat untuk anak-anak. Ada benarnya juga. Aku baru beberapa kali menonton acara ini, tapi aku bisa melihat kalau banyak nilai-nilai baik yang ditanamkan di dalamnya. Meskipun sebenarnya aku lebih tertarik mendengar logat dialog melayu para pemainnya daripada mendengarkan inti pembicaraannya. Hehehe..
Tapi berhubung aku jarang sekali buka channel lokal (karena pakai tv kabel) anakku malah lebih suka dengan Teletubbies, In The Night Garden, Fimbles dan beberapa program lainnya di CBeebies. Dia tidak mengenal Upin-Ipin, tapi dia sudah bisa menirukan lagu-lagu yang menjadi soundtrack dari acara-acara di CBeebies itu, meskipun berbahasa Inggris.

Lalu ada teman yang nyeletuk: “Anakmu kok tahunya acara luar negeri, Ris? Biasakanlah dengan produk lokal, kayak Upin dan Ipin gitu.

Helloooo…. Upin-Ipin itu bukan produk lokal, teman. Itu buatan negara tetangga, Malaysia.
CBeebies dan Upin-Ipin sama-sama produk luar negeri yang terpaksa harus dinikmati anak-anak kita, karena kurangnya acara anak-anak produk lokal yang bermutu di televisi.

Tanpa bermaksud mendiskreditkan program acara (atau stasiun tv) manapun, aku memang tidak terlalu antusias untuk menonton program anak di stasiun tv lokal bersama anakku. Untuk apa menonton acara dimana anak-anak diajari tentang “tipuan sihir” yang terlihat tolol, sementara di channel sebelah ada cerita yang lebih bermutu yang mengajarkan lagu-lagu riang gembira sambil bergerak lincah?

Ketika acara anak-anak di Indonesia masih bercerita tentang tarzan-tarzan-an yang hobinya mengerjai orang dewasa (yang anehnya terlihat bodoh semua), Upin-Ipin sudah bercerita tentang bagaimana memperlakukan orang lain dengan lebih baik dan sopan, baik itu orang dewasa ataupun sesama anak-anak. Ketika acara anak-anak di Indonesia menampilkan tentang hebatnya “gol jadi-jadian nan luar biasa aneh” dari seorang anak yang meniru pemain bola asing, CBeebies sedang mengajarkan tentang berbagai jenis hewan dan makanannya sambil bernyanyi dan menari dengan riang. Kreatif!
Jadi, jangan salahkan kalau anak-anak Indonesia tidak cinta produk dalam negeri. Karena program anak-anak kita sudah “diracuni” materi sinetron yang cenderung mengada-ngada (alias jauh dari nyata) dan minim unsur belajarnya. Bandingkan dengan Upin-Ipin dan program dari luar lainnya. Bagaikan bumi dan langit! Kalaupun tidak bisa secanggih Fimbles, buatlah jadi semenarik Upin-Ipin.
Kondisi ini harus segera diperbaiki, menurutku. Masalahnya, adakah pihak yang berminat memperbaikinya?

Hentikan Tayangan Balita Merokok

Rinto dari Subang dan Galih dari Sukabumi, Jabar mendadak jadi beken dan jadi perbincangan dimana-mana. Orang tua mereka dengan bangga dan penuh senyum memamerkan anak balitanya itu di televisi, untuk menunjukkan “prestasi” unik yang dimiliki anaknya. Apakah itu? Juara olimpiade matematika? Bukan! Atau, juara pidato bahasa Inggris? Bukan juga. Atau bisa berbahasa asing dalam usia yang sangat muda, mungkin? Bukan juga. Yang ini lebih “unik” lagi. Anak-anak imut-imut ini memiliki hobi yang amit-amit. Yaitu, keduanya sangat ahli MEROKOK!
Aku heran melihat orang-orang dewasa di sekitarnya malah tertawa (seakan bangga) ketika melihat Rinto dan Galih mempertontonkan keahliannya merokok, layaknya orang dewasa. Bahkan ada seorang ibu yang terang-terangan menyalakan korek api untuk menghidupkan rokoknya. Lalu si anak akan berdiri selayaknya jagoan, dengan kaki terentang dan tangan terlipat. Asap rokok mengepul-ngepul dari mulutnya. Mengingatkanku pada tingkah polah preman pasar! Akan jadi itukah anak-anak ini di masa dewasanya kelak?

Bukankah seharusnya orang tuanya merasa malu dengan kelakuan anak-anaknya itu? Dan bukannya menunjukkan dengan bangga kepada orang-orang di seluruh Indonesia? Anak seperti itu harusnya diberi pengarahan dan dibantu untuk lepas dari kebiasaan yang orang dewasa saja berusaha untuk menghindarinya itu. Aneh bin ajaib!

Keluarga Rinto dan Galih dinyatakan sebagai keluarga yang kurang mampu dan memang terlihat jelas dari kondisi hidup mereka. Tapi, kok mereka mampu membeli rokok ya? Apalagi anak-anak itu bisa menghabiskan 1-2 bungkus rokok perharinya. Katakanlah mereka menghisap rokok yang murah seharga 5000 rupiah. Dalam sebulan saja, mereka harus “membakar” uang sebanyak 150 ribu untuk sebungkus rokok perharinya. Kalau bisa membuang uang sebanyak itu untuk rokok, nggak usah cerita jadi keluarga kurang mampu lah! Kalau keluarga kurang mampu, uang sebanyak itu bisa dipergunakan untuk membeli beras atau biaya sekolah.

Ada pendapat kalau latar belakang kemiskinan dan kurangnya pendidikan orang tuanya lah yang mengakibatkan “fenomena” ini terjadi. Orang tuanya “tidak tahu” kalau yang mereka anggap sebuah kebanggaan itu sebenarnya adalah AIB!
Tapi menurutku, media lah disini yang menjadi biang keroknya. Untuk apa meliput kelakuan buruk seperti itu di televisi, kalau tidak ada tujuan dan jalan keluarnya? Kalau pelaku korupsi yang diberitakan, itu karena menyangkut hajat hidup orang banyak, dan rakyat berhak mengetahui proses hukumnya. Sekaligus untuk memberi efek jera bagi pelakunya, karena malu.

Nah, kalau balita yang merokok, untuk apa diberitakan coba? Jangan-jangan pemberitaan ini malah “memancing” balita-balita lain yang kebetulan menonton untuk ikut mencoba-coba menghisap rokok. Kan hebat, jadi bisa masuk tv. Dan orangtuanya malah jadi bangga karena anaknya “masuk tv” karena sudah bisa merokok di usia dini. Makanya dia masih bisa mempertontonkan barisan gigi di senyum lebarnya itu di depan kamera.
BERHENTILAH MENAYANGKAN BERITA BALITA MEROKOK INI DI TELEVISI! 
Jangan biarkan mereka menjadi topik pembicaraan dan menjadi “orang terkenal” sehingga berpotensi untuk mempengaruhi orang lain agar menirunya. Televisi punya pengaruh yang sangat besar. Berita ini malah lebih “aib” daripada berita koruptor, sehingga tidak layak diberitakan. Karena yang menjadi topiknya adalah anak-anak yang bakal memimpin bangsa ini di masa depan. Anak-anak seperti inikah yang akan memimpin negara ini kelak? Ampun DJ!!!

Hamil Sebelum Menikah. Trend?

Ingat nggak, waktu dulu sedang musimnya selebriti merayakan ulang tahunnya secara mewah dan besar-besaran? Ketika itu, banyak sekali masyarakat umum dari kalangan mampu yang memilih merayakan ulang tahunnya (biasanya ulang tahun ke-17) juga di hotel-hotel berbintang. Demi mendapatkan kesan berkelas dan wah layaknya pesta-pesta selebriti di televisi. Kenapa? “Kan sekarang lagi musimnya pesta besar-besaran.” Begitulah sebagian kecil dari besarnya pengaruh televisi pada masyarakat luas. Gaya hidup mereka-mereka yang sering nampang di televisi, tak jarang menjadi acuan para penontonnya
Dan gaya hidup yang terbaru (tapi termasuk stok lama) sekarang ini adalah, trend untuk hamil sebelum menikah atau hamil dulu baru menikah atau hamil dulu dan tetap tidak menikah. Nah, kalau yang ini, ada banyak sekali contoh-contoh terbaru yang bisa kita lihat beredar di layar televisi. .

Di televisi, perempuan Indonesia yang dibesarkan dengan adat ketimuran, sudah dengan berani menantang kamera wartawan dan mengatakan kalau dia sedang mengandung meskipun belum pernah menikah. Ada juga yang mengatakan kalau ia sedang menuntut pengakuan ayah dari anaknya yang sudah besar, karena dia ingin membuat akte kelahiran untuk buah hatinya itu. Akte kelahiran biasanya bisa diurus begitu si anak lahir kok, tapi syaratnya harus menyertakan akta nikah. Kalau ternyata, anaknya tidak bisa diurus akte kelahirannya, berarti ada masalah dengan akta nikahnya kan? Eh, ternyata si anak itu adalah anak di luar nikah. Yah pantas saja tidak bisa diurus akte kelahirannya. Ada juga perempuan yang bersikukuh untuk menutupi ayah dari anaknya, tapi tetap bertahan tidak menikah dengan alasan lebih memilih jadi single parent daripada tetap memaksa menikah dan akhirnya bercerai.

Apa jadinya, kalau perempuan-perempuan Indonesia ini sudah tidak merasa malu lagi kalau melahirkan anak sebelum menikah, seperti perempuan-perempuan ‘bule’ sana? Apakah kita benar-benar sudah siap meniru kebudayaan Barat itu lengkap dengan konsekuensinya? Dulu, kalau seorang perempuan hamil di luar nikah, keluarganya akan buru-buru ‘mengungsikan’ si calon ibu yang belum bersuami itu ke kampung. “Malu dengan gunjingan orang” alasannya. Sekarang? Weleh-weleh…jangankan sembunyi, eh malah nongol di layar televisi. Heran.
Perasaan “malu akan gunjingan orang” itu sebenarnya bisa dijadikan antisipasi mental yang ampuh untuk menangkal trend hamil sebelum menikah ini. Perempuan-perempuan timur akan berusaha agar tidak terjerumus ke perilaku seks sebelum menikah agar tidak mengalami hukuman digunjingkan masyarakat ini. Karena, malunya tak akan pernah bisa hilang. Kalau ternyata, hukuman mental ini sudah tidak lagi ampuh, maka kita tinggal menunggu waktu saja. Karena sebentar lagi akan lebih banyak lagi perempuan-perempuan muda lainnya yang akan hamil sebelum menikah dan “tidak perlu merasa malu". Kenapa?
"Wong dimana-mana juga banyak yang hamil di luar nikah kok, tapi tetap santai. Kenapa aku harus malu? Perduli amat dengan omongan orang! So what gitu loh”
Punya anak perempuan di zaman sekarang ini memang susah ya..

Tuhan bukan agama!

True religion, requires that the rights of the disbeliever be equally acknowledged with those of the believer.
"Agama yang sejati mengharuskan adanya persamaan hak antara penganut dengan yang bukan penganut."
(Powell Davies (1902-1957))

Sering kali agama dijadikan alasan oleh segelintir orang untuk merusak tatanan dan nilai-nilai sosial yang sudah lama berkembang di sekitar kita. Agama yang sejatinya dipergunakan sebagai media untuk meraih perdamaian dengan Sang Pencipta, diri sendiri, lingkungan dan alam semesta, telah berubah menjadi media untuk mengangkat senjata atau bahkan menghilangkan nyawa orang lain. Padahal Tuhan adalah Tuhan. Tuhan bukan agama. Tuhan bukan gedung. Tuhan bukan simbol-simbol. Tuhan bukan kitab suci. Tuhan adalah Tuhan. Titik.

Kalau begitu apa tujuan agama? Satu hal yang pasti adalah:

Tuhan/Allah/God/Yahwe (atau apapun istilah yang dipergunakan manusia untuk Sang Khalik ini) tidak memerlukan pembelaan dari manusia yang fana dan hanya sebutir debu di jagad raya ini!

Siapakah aku hingga layak mengajukan diri untuk menentukan batas-batas garis kebenaran penilaian manusia terhadap sosok yang sama sekali berada di luar jangkauan nalarku sebagai manusia ini? Siapakah kita sekalian sehingga berhak menghakimi sesama manusia telah melakukan penghinaan terhadap sosok Tuhan Yang Maha Esa itu sendiri? Apa yang sudah kita punyai sebagai bekal, sehingga kita layak menempatkan diri sebagai ”juru bicara-Nya?”

Setelah melihat postingan yang ditulis bang Alan (salah seorang sahabat blogger dari Malaysia), aku melihat kemunculan sebuah grup di Facebook yang menyatakan penolakan penggunaan istilah Markus sebagai akronim dari  Makelar Kasus yang sedang naik daun saat ini.

Hanya karena Markus adalah nama orang kudus dalam agama Kristen. Pertanyaannya: mengapa harus selalu menarik kaitan antara semua hal dengan agama?

Aku sendiri beragama Kristen, tapi sama sekali tidak tersinggung dengan penggunaan istilah itu. Lalu bagaimana dengan istilah Petrus alias Penembak Misterius yang dulu dikenal di zaman Orde Baru? Petrus juga nama orang kudus, tapi tidak ada yang keberatan dengan istilah itu (atau mungkin takut dengan ancaman yang membayangi, kalau berani komentar ya? Hehehe).

Kalau semua hal selalu dikait-kaitkan dengan agama, maka dunia ini tidak akan pernah tenang. Akan selalu ada pihak yang tersinggung. Akan selalu ada yang merasa dilecehkan. Akibatnya, bukan kedamaian yang tercipta, melainkan perang. Padahal Tuhan Yang Maha Esa sendiri tidak ”ribut” mempersoalkan istilah yang hanya dipergunakan manusia (sebagian kecil dari ciptaan-Nya) itu saja. Kalau Dia tersinggung, alamat kiamat tidak perlu menunggu sampai 2012 lagi. Detik ini juga, jagad raya ini lenyap.

Jadi, kembalikanlah agama pada kepribadian, hati dan jiwa kita masing-masing. Tak ada agama yang jahat atau buruk. Yang ada hanya manusia yang jahat atau buruk. Tak perlulah memata-matai agama lain untuk mencari-cari kesalahan. Tapi lihatlah ke dalam diri sendiri dan binalah hubungan baik dengan Tuhan/Allah/God/Yahwe yang kau percayai. Kalau hubungan baik dengan Sang Maha Pencipta itu sudah terbina dengan baik, niscaya hubungan baik dengan sesama manusia, yang seiman atau pun tidak, akan berjalan dengan baik pula. Karena agama sejatinya muncul untuk mempererat rasa kemanusiaan dan bukan sebaliknya menghancurkan sesama manusia.