Play With Fireworks Wisely

Everybody loves holidays and celebration is one of the reason to this. We just love the amazing air which very different from the other days we have in a year. Especially when we talk about Christmas (for Christians) or Eid ul -Fitr (for Moslems). Each holiday is very special to it's congregations. But we have one thing in common about how to celebrate it and how to make the holidays merrier. I want to talk about FIRE WORKS!

Based on Wikipedia, Fireworks are a class of explosive pyrotechnic devices used for aesthetic and entertainment purposes. Indeed, it is very entertaining to watch beautiful fireworks in the night sky, especially when we're on celebration. The bigger the fireworks, then the merrier the celebration becomes. I'm sure that everybody will prefer giants fireworks like this one below:
than the small one like my daughter usually play with like this:
Because that's the point of fireworks. Size does matter!

But, for me, the entertaining part from the size of fireworks is not that fun anymore when we're talking about the audio part. Fireworks are so loud that sometimes you even have to close your eyes. And that is my problem right now, unfortunately.

I have a two months old baby in my house right now and I'm still recovering from my sectio cesarean I had. But I must deal with some irresponsible person who play with medium size fireworks every night since the first day of this Fasting month. I know that they just tried to have fun, but can't you just wait until the "big day" instead, to start celebrating using fireworks? I have a baby who can't sleep and starts to cry every time you start playing with your stupid noisy fireworks!

Beside, I don't think it's a wise idea to play medium size fireworks among a crowd place like in the middle of people like that. You can go to an empty wide field and fire all your fireworks there where people can enjoy it safely without bothering new born baby like my son. But, if you wait until Eid ul -Fitr to start playing, I can bring my little baby away from my house that night. So that he can rest and sleep well peacefully. But until then, please use small fireworks instead. You can use it every night and still get the fun. Happy Fasting for you (who celebrate).


Image Source: batescountynewswire.blogspot.com;

Selamat Paskah 2010

"Bila pagi hari mentari boleh bersinar itu anugerah,
bila Kristus rela mati untuk kita itu karena kasihNya
kepada kita dan saat ini Ia bangkit, itulah kemenangan
kita. Selamat Paskah, kasih Kristus senantiasa bersama
kita"
"KemenanganNya membuka mata, hati dan pikiran kita,
akan betapa besar cinta, kasih sayang serta anugerah
Yesus Kristus bagi kehidupan kita. Selamat Paskah"

THR Si Tukang Sampah

Pulang dari jalan-jalan hari kemarin, aku dibuat bingung dengan laporan dari pembantu rumah. Katanya, orang yang biasa mengangkut sampah di kompleks perumahan kami datang dan minta THR sama kami. Apa? Nggak salah tuh orang? Ada urusan apa dia minta THR sama kami? Waktu pembantu rumahku menanyakan THR seperti apa yang dia maksud, dia cuma bilang:
”Yah, bisa minuman botol atau roti kaleng lah.”
Weeewww.. Ini orang, sudah mintanya maksa, dia pula yang menentukan bentuk THR nya.

Sebenarnya aku sudah agak kesal ”ditodong” seperti itu. Aku merasa tidak punya kewajiban sama sekali untuk memberikan dia Tunjangan Hari Raya. Bonus itu cuma aku berikan untuk pembantu rumahku. Ya wajarlah. Dia kerja seharian di rumah. Mencuci, menyapu, menyetrika dan mengepel. THR adalah seperti bonus untuk menyenangkan hatinya menyambut Lebaran. Tapi si tukang pungut sampah ini siapa? Datangnya cuma dua kali seminggu dan angkut sampahnya tidak bersih alias ada yang berceceran kemana-mana. Dan yang lebih buat kesal lagi, mereka bilang tidak mau mengangkut sampah rumput dari depan rumah.

Biasanya sekali sebulan aku bayarin tukang rumput untuk membabat rumput di halaman depan dan belakang. Habis dibabat, rumput-rumput itu biasanya dimasukkan ke dalam beberapa goni dan diletakkan di samping tong sampah. Jadi, kalau truk pengangkut sampahnya datang, sekalian angkut rumput yang di dalam goni. Eh, mereka protes. Katanya, sampah rumput harus dibuang sendiri. Heran. Tukang sampah kok milih-milih sampah mana yang mau dibuang dan sampah mana yang harus dibuang sendiri. Padahal dia tinggal mengangkut dengan truknya, bukan panggul sendiri. Untungnya tukang potong rumput langgananku itu baik. Jadi, habis potong rumput dia yang buang rumputnya.

Membayangkan hal yang satu ini saja, sudah cukup membuatku keberatan ketika ditodong harus memberikan THR untuk mereka. Tapi rasanya capek juga kalau harus repot-repot meladeni mereka untuk bilang kalau aku keberatan dengan todongan THR itu. Akhirnya aku memutuskan untuk memberikannya juga dengan tidak rela. Aku membeli sebotol sirup markisa saja. Daripada ribut. Berapalah harga sebotol markisa, kan? Lalu ketika keesokan harinya, si truk pengangkut sampah datang lagi lengkap dengan teriakan-teriakan memanggil, aku menyuruh pembantu rumah untuk memberikan sirup markisa itu lengkap dengan wanti-wanti seandainya dia menanyakan aku, bilang tidak ada di rumah.

Ternyata dia tidak mengatakan apa-apa, kecuali menerima sirup itu dan mengucapkan terimakasih. Aku perhatikan dari balik kaca gelap jendela, kalau tukang angkut sampah itu tidak memanggil pemilik rumah di depan ataupun di kiri-kanan rumah kami. Berarti dia tidak "menodong" mereka dengan THR kan? Aku jadi berpikir jangan-jangan kami ditipu nih sama mereka. Jangan-jangan hanya kami saja yang kena todong seperti itu. Atau mungkin semua dimintai juga, tapi hanya kami saja yang bersedia memberikan. Langsung dipenuhi pemikiran negatif.

Tapi kemudian aku tersadar. Bukankah seharusnya aku bersyukur karena ternyata mampu memberikan sesuatu untuk mereka? Ketika orang lain yang jauh lebih mampu dari kamipun memilih untuk tidak memberikan, kami masih bisa memberikan sebotol sirup sebagai THR mereka?

Mungkin aku hanya kesal karena tindakan mereka yang menurutku kurang menyenangkan dengan memilih-milih sampah mana yang mau diangkut dan mana yang harus dibuang sendiri. Mungkin juga aku kesal karena mereka kuanggap kurang sopan karena dengan tenangnya mengatakan: ”Kami minta THR.” Dan rasa kesal pulalah yang telah membuatku ”tega” hanya memberikan sebotol sirup saja dan bukannya setengah lusin sekaligus.

Entahlah. Tapi kekesalanku jadi berkurang begitu melihat ternyata tidak semua pemilik rumah yang mau memberikan apa yang mereka minta itu. Mudah-mudahan saja pemberian kecil dari kami itu berguna. Karena aku sadar, THR pasti memberi kesan tersendiri bagi setiap orang yang menerimanya. Apalagi mereka yang memerlukannya untuk berhari raya. Selamat Lebaran untuk kawan-kawan yang merayakannya.